Kamis 17 Mar 2022 13:13 WIB

Pengamat: PTKIN tak Sulit Lahirkan Lulusan Humanis, Religius, dan Nasionalis

PTKIN mendukung perkembangan karakter-karakter humanis, religius, dan nasionalis.

Rep: Fuji Eka Permana/ Red: Agung Sasongko
Kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta di Ciputat, Tangerang Selatan.
Foto: Republika/Musiron
Kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta di Ciputat, Tangerang Selatan.

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Pengamat Pendidikan Islam, Jejen Musfah, memandang bahwa mayoritas Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) sudah memiliki dosen-dosen yang humanis, religius, dan nasionalis. Maka tidak sulit melahirkan lulusan yang memiliki karakter tersebut.

Menurut Jejen, kultur kampus PTKIN juga mendukung perkembangan karakter-karakter humanis, religius, dan nasionalis. Demikian juga kurikulum integrasi ilmu dan mata kuliah keagamaan mendukung lahirnya generasi yang humanis, religius, dan nasionalis.

Baca Juga

"Jika ada kasus dosen atau mahasiswa yang pola pikirnya menyimpang dari ketiga nilai ini, maka besar kemungkinan pengaruh dari luar kampus," kata Jejen kepada Republika, Kamis (17/3/2022).

Jejen menyampaikan, masalah muncul pada orientasi PTKIN menjadi kampus kelas dunia, yang di antara indikatornya adalah publikasi ilmiah di jurnal internasional atau scopus. Menurutnya, tagihan menulis artikel di jurnal internasional ini tidak tepat karena tidak semua dosen dan mahasiswa punya kemampuan menulis dan meneliti level internasional.

Ia menyarankan, pemenuhan artikel scopus ini sebaiknya dibebankan kepada sebagian dosen yang memang menguasai bidang ini. Jadi sebaiknya sebagian dosen fokus saja pada kualitas pembelajaran atau transfer kompetensi sesuai kebutuhan dunia kerja.

"Memaksakan semua dosen dan mahasiswa menulis scopus bertentangan dengan prinsip humanisme, yang mengakui keragaman minat dan bakat," ujarnya.

Jejen menegaskan, singkatnya, dosen dibagi dua. Yakni dosen peneliti dan dosen pengajar. Artinya, yang membedakan keduanya adalah pada porsi meneliti atau mengajarnya.

Menurutnya, kebijakan scopus yang berlaku bagi semua dosen dan mahasiswa S3 ini harus segera dihentikan. Karena memunculkan jual-beli artikel dan makelar scopus yang bertentangan dengan kejujuran, sebuah nilai yang harus dipegang erat oleh dosen dan mahasiswa.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement