Rabu 16 Mar 2022 18:03 WIB

'Kompetisi Santri Speech Contest Bisa Promosikan Islam ke Seluruh Dunia'

Acara speech contest dinilai sebuah kemajuan dan lompatan besar bagi pesantren.

Pintu masuk kawasan makam Gus Dur di Pondok Pesantren Tebuireng, Kecamatan Cukir, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.
Foto: ANTARA/syaiful arif
Pintu masuk kawasan makam Gus Dur di Pondok Pesantren Tebuireng, Kecamatan Cukir, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

REPUBLIKA.CO.ID, JOMBANG -- Perkembangan teknologi informasi dan strategi kelompok terorisme kian hari terus bertransformasi menggunakan cara-cara baru demi menggaet simpatisan utamanya para generasi muda. Selain itu kelompok terorisme juga kerap mendistorsi agama demi kepentingan politiknya. Oleh karena itu dibutuhkan kreativitas, inovasi dan penguatan kapasitas masyarakat dalam rangka menghalau penyebaran paham radikalisme dan terorisme.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol Boy Rafli Amar memberikan apresiasinya kepada para santri dalam acara Semi Final Santri Speech Contest berbahasa Inggris Tingkat Naisonal yang berlangsung di Pondok Pesantren (Ponpes) Tahfidzul Quran Cinta Rasulullah, Kabupaten Jombang, Senin, (14/3/2022) lalu.

"Acara speech contest Ini adalah sebuah kemajuan dan lompatan besar bagi pesantren yang membekali para santri dengan bahasa Inggris. Sehingga para santri bisa mengemas dakwah dan mempromosikan Islam yang rahmatan lil alamin ke seluruh dunia," ujar Boy Rafli.

Lebih lanjut, dalam acara yang juga dihadiri Bupati Jombang Hj Mundjidah Wahab ini, Kepala BNPT juga mengungkapkan kebahagiaannya terhadap acara yang digelar tersebut. Pasalnya acara santri speech contest yang berlangsung tersebut dapat menjadi penambah wawasan terhadap santri secara lebih global dan menjadi angin segar bagi perkembangan dakwah Islam yang rahmatan lil alamin sebagaimana ciri khas Islam di Indonesia.

"Acara ini tentunya untuk menambah wawasan para santri secara lebih global dengan konten Islam rahmatan lil alamin yang meruakan ciri khas dari Islam  di Indoensia yang juga banyak disebarluaskan oleh para ulama kita ynag selalu kita jadikan contoh," tutur Kepala BNPT.

Bukan tanpa alasan, alumni Akpol tahun 1988 ini mengungkapkan, hal ini berkaitan dengan maraknya konten radikal yang disajikan dalam Bahasa Inggris di media sosial, dan hal ini menjadi salah satu factor pemicu banyaknya pemuda di pelbagai belahan dunia terjerumus pada ajaran radikal ekstremisme.

"Sebagaimana perkembangan konten yang mereka (kelompok teror) anggap sebagai perjuangan agama dipropagandakan di sosial media. Jadi mereka juga menggunakan narasi agama dalam Bahasa Inggris di dunia maya," ungkap mantan Kapolda Papua itu.

Sehingga ia berharap, para santri dengan kemampuan berbahasa asingnya dan kapasitas keilmuannya dapat menguasai jagad sosial media dan mampu berdakwah, berorasi, dan memberikan tausiyah kepada masyarakat di dunia. Selain itu para santri diharapkan dalam  berdakwah juga membangun narasi Islam yang tasamuh kemudian memviralkan ke seluruh dunia.

"Nah, media sosial ini harus dikuasai oleh orang baik, sehingga dengan kontes ini nanti pesan dari santri kita akan tersebar ke seluruh dunia dan dunia tahu betapa moderatnya Islam di Indonesia ini,”" ucapnya.

Kepada para santri-santri tersebut Kepala BNPT juga berpesan untuk selalu menggelorakan narasi-narasi nasionalisme dan semangat kecintaan kepada negara. Karena bangsa Indonesia ini memiliki empat pilar kebangsaan yakni UUD 1945 sebagai konstitusi negara, Pancasila sebagai ideologi bangsa, semboyan Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI  yang tentunya harus bisa dijaga secara bersama.      

"Di mana transformasi empat pilar ini juga telah mendapat dukungan dari kalangan pesantren dan para alim ulama dengan prinsip hubul wathon minal iman sebagaimana yang telah dicontohkan kepada para leluhur bangsa ini," kata mantan Kepala Divisi Humas Polri ini.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement