Sunday, 3 Jumadil Awwal 1444 / 27 November 2022

Islamofobia Melonjak di Australia Sejak Teror Masjid Christchurch

Rabu 16 Mar 2022 03:55 WIB

Rep: Alkhaledi Kurnialam/ Red: Ani Nursalikah

Masjid Linwood di Christchurch, Selandia Baru yang menjadi lokasi penembakan pada 2019. Islamofobia Melonjak di Australia Sejak Teror Masjid Christchurch

Masjid Linwood di Christchurch, Selandia Baru yang menjadi lokasi penembakan pada 2019. Islamofobia Melonjak di Australia Sejak Teror Masjid Christchurch

Foto: ALDEN WILLIAMS/STUFF
Insiden Islamofobia termasuk serangan fisik, pelecehan non-verbal, dan intimidasi.

REPUBLIKA.CO.ID, CANBERRA -- Platform pelaporan kasus Islamofobia, Islamophobia Register Australia menyebut adanya peningkatan kasus Islamofobia di Australia sejak peristiwa pembunuhan di masjid Christchurch. 

Dilansir dari Australian Broadcasting Corporation (ABC), Selasa (15/3/2022), laporan terbaru menyebut ada 247 insiden Islamofobia baru-baru ini. Insiden termasuk serangan fisik, penyerangan, kerusakan properti, pelecehan non-verbal, intimidasi, dan ancaman daring.

Baca Juga

Rilis laporan itu bertepatan dengan peringatan ketiga serangan teroris 2019 di Selandia Baru, di mana seorang ekstremis sayap kanan Australia menembak dan membunuh 51 Muslim saat sholat Jumat. Menurut platform itu, dalam dua pekan setelah serangan Christchurch, volume insiden yang dilaporkan ke daftar Islamofobia melonjak.

Kasus offline meningkat empat kali lipat dan kasus daring meningkat 18 kali lipat. Mayoritas insiden melibatkan ujaran kebencian, diikuti oleh diskriminasi kemudian grafiti dan vandalisme, sementara kerusakan properti yang parah menyumbang dua persen dan kerusakan individu tiga persen.

Lebih dari setengah penghinaan menargetkan agama individu dan agama, diikuti dengan bahasa kotor dan komentar xenofobik. Sementara komentar yang mengaitkan Islam dengan terorisme mencapai 24 persen dan praduga Muslim membunuh/membahayakan mencapai 15 persen.

Laki-laki diidentifikasi sebagai mayoritas pelaku

Seperti pengulangan laporan sebelumnya, sebagian besar pelakunya adalah laki-laki. Dari kasus fisik yang dilaporkan, laki-laki diidentifikasi sebagai pelaku dalam 78 persen insiden, sementara target mereka paling umum adalah perempuan yang menjadi korban 82 persen.

Wanita Muslim adalah target yang paling umum, dengan 85 persen dari insiden yang dilaporkan melibatkan wanita yang mengenakan jilbab, dan anak-anak hadir dalam 15 persen kasus. Salah seorang korban, Nabil, yang mengajukan laporan ke Daftar Islamofobia pada 2019 atas nama istrinya, mengatakan jelas bahwa istrinya lebih sering menerima ejekan Islamofobia daripada dia.

Saat kejadian, mahasiswa PhD yang telah pindah ke Australia dari Bangladesh baru turun dari akomodasi universitasnya di Camden di Barat Daya Sydney. Ia ditemani oleh istrinya yang sedang hamil dan mengenakan jilbab. Seketika pria dan wanita muda di dalam mobil yang lewat meneriakkan kata-kata kasar dan rentetan komentar terkait dengan penampilan mereka.

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA