Monday, 30 Safar 1444 / 26 September 2022

IHSG Dibuka Menguat, Saham BBRI dan TLKM Langsung Diborong Asing

Senin 14 Mar 2022 09:56 WIB

Rep: Retno Wulandhari/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Warga melihat layar pergerakan saham pada gawainya di Jakarta. Kenaikan IHSG pada awal perdagangan ini ditopang oleh aksi beli investor asing pada saham-saham jumbo. Net buy asing pada BBRI tercatat sebesar Rp 53,7 miliar dan membawanya menguat ke level 4.430. Lalu ada TLKM dengan pembelian mencapai Rp50,7 miliar. TLKM pun menguat sebesar 1,31 persen.

Warga melihat layar pergerakan saham pada gawainya di Jakarta. Kenaikan IHSG pada awal perdagangan ini ditopang oleh aksi beli investor asing pada saham-saham jumbo. Net buy asing pada BBRI tercatat sebesar Rp 53,7 miliar dan membawanya menguat ke level 4.430. Lalu ada TLKM dengan pembelian mencapai Rp50,7 miliar. TLKM pun menguat sebesar 1,31 persen.

Foto: ANTARA/M Risyal Hidayat/rwa.
IHSG menguat ditopang aksi beli investor asing terhadap TLKM dan BBRI

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka di area positif pada perdagangan sesi pertama, Senin (14/3). IHSG menguat ke level 6.949,20 setelah sempat berakhir melemah pada penutupan perdagangan hari sebelumnya.

Kenaikan IHSG pada awal perdagangan ini ditopang  aksi beli investor asing pada saham-saham jumbo. Net buy asing pada BBRI tercatat Rp 53,7 miliar dan membawanya menguat ke level 4.430. Lalu ada TLKM dengan pembelian mencapai Rp 50,7 miliar. TLKM pun menguat sebesar 1,31 persen.

Phillip Sekuritas Indonesia mengatakan dampak perseteruan antara Rusia dan Ukraina masih membayangi pasar saham. "Risiko geopilitik dan kekhawatiran mengenai inflasi memberi tekanan yang besar pada harga saham," kata Phillip Sekuritas Indonesia dalam risetnya, Senin (14/3/2022). 

Perang antara Rusia dan Ukraina terus mengalami eskalasi setelah militer Rusia membombardir sejumlah kota besar di seluruh wilayah Ukraina. Presiden AS Joe Biden pun membekukan hubungan dagang normal dengan Rusia sebagai bagian dari sanksi yang dirancang untuk mengisolasi Rusia secara ekonomi karena telah menginvasi Ukrania.

Di pasar obligasi, imbal hasil (yield) surat utang Pemerintah AS (US Treasury Note) bertenor 10 tahun stabil di 2 persen karena perang Rusia dan Ukraina telah menekan keinginan investor berinvestasi pada aset berisiko tinggi. Investor lebih memilih berinvestasi pada aset yang di anggap aman seperti sura utang Pemerintah AS.

Menurut Phillip Sekuritas Indonesia, pekan ini fokus perhatian investor akan tertuju pada bank sentral untuk mencari petunjuk mengenai arah suku bunga, tingkat inflasi serta kondisi ekonomi secara keseluruhan di tengah tingkat ketidakpastian yang tinggi akibat dari peningkatan ketegangan geopolitik.

Di pasar komoditas, meskipun di tutup naik pada Jumat lalu harga minyak mentah mencatatkan penurunan mingguan terbesar sejak November 2021, tertekan oleh potensi perbaikan pada aliran pasokan minyak dunia yang telah terganggu oleh invasi Rusia ke Ukraina.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA