Jumat 11 Mar 2022 20:45 WIB

Bimbingan Perkawinan Cegah Stunting dari Hulu

Isu stunting sudah masuk dalam program bimbingan perkawinan.

Rep: Fuji E Permana/ Red: Ani Nursalikah
Petugas kesehatan mengukur panjang bayi saat pelaksanaan imunisasi di salah satu Posyandu. Bimbingan Perkawinan Cegah Stunting dari Hulu
Foto: ANTARA/Mohamad Hamzah
Petugas kesehatan mengukur panjang bayi saat pelaksanaan imunisasi di salah satu Posyandu. Bimbingan Perkawinan Cegah Stunting dari Hulu

REPUBLIKA.CO.ID, Menag:  Ikhtiar Kemenag Cegah Stunting

JAKARTA -- Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas bersama Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) meluncurkan program Pendampingan, Konseling, dan Pemeriksaan Kesehatan dalam Tiga Bulan Pranikah sebagai upaya pencegahan stunting dari hulu kepada calon pengantin. Peluncuran program ini berlangsung di Pendopo Parasamya Kabupaten Bantul, Provinsi DIY, Jumat (11/3/2022).

Baca Juga

Yaqut menyampaikan, pencegahan stunting adalah upaya penting dalam menyiapkan generasi bangsa yang berkualitas. Program pendampingan yang dirilis hari ini sangat penting dan sejalan dengan Program Bimbingan Perkawinan (Bimwin) yang digulirkan Kemenag.

"Bimbingan perkawinan adalah ikhtiar Kemenag dalam mencegah stunting," kata Yaqut melalui pesan tertulis yang diterima Republika, Jumat (11/3/2022).

Menurutnya, pencegahan stunting adalah perintah agama, bukan hanya perintah negara. Sebab, menyiapkan generasi terbaik adalah risalah nubuwwah. Pencegahan stunting juga tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tapi juga semua warga bangsa. Karenanya, diperlukan upaya kolaboratif dari seluruh stakeholders.

"Ketahanan keluarga menjadi satu pondasi ketahanan negara. Kita ingin generasi bangsa menjadi generasi yang mampu berkompetisi secara global. Keluarga menjadi palang pintu utama pada generasi mendatang," jelas Yaqut.

Ia mengatakan, ke depan Kemenag akan perkuat kolaborasi dan BKKBN dan pihak terkait lainnya. Isu stunting sudah masuk dalam program bimbingan perkawinan.

"Saya juga meminta penyuluh agama se-Indonesia terlibat dan berkolaborasi dalam program ini. Mari kita bersama-sama memberi perhatian untuk penurunan stunting di Indonesia," ujarnya.

Kepala BKKBN Hasto Wardoyo menyampaikan sebanyak 37 persen remaja putri Indonesia mengalami anemia. Setelah hamil, angkanya naik menjadi 48 persen anemia, akibatnya bayi yang dikandung tidak subur dan bisa stunting.

"Bantul bisa jadi percontohan karena jumlah stunting sekitar 14 persen, sesuai target nasional pada 2024," ujarnya.

Bupati Bantul Abdul Halim Muslih mengatakan jika pencegahan stunting hanya berkutat di hilir maka kurang efektif. Untuk itu, diperlukan upaya pencegahan sejak dari hulu.

"Tadi pagi kami telah mengukuhkan tim percepatan penurunan stunting di Bantul,” katanya.

Bupati Bantul juga mengalokasikan anggaran Rp 50 juta untuk setiap pedukuhan. Di antaranya digunakan untuk pencegahan stunting.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement