Jumat 11 Mar 2022 11:10 WIB

Muhammadiyah Terima Kunjungan Dubes Ukraina

Dubes Ukraina Kunjungi Muhammadiyah.

Rep: Fuji E Permana/ Red: Muhammad Hafil
Muhammadiyah Terima Kunjungan Dubes Ukraina. Foto:   Logo Muhammadiyah.
Foto: Antara
Muhammadiyah Terima Kunjungan Dubes Ukraina. Foto: Logo Muhammadiyah.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Memasuki hari ke-14 konflik Ukraina-Rusia yang kian memanas, Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menerima kedatangan Duta Besar (Dubes) Ukraina untuk Indonesia Vasyl Hamianin dan Sekretaris Kedutaan Besar Ukraina untuk Indonesia Svitlana Bondarenko di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah Jakarta pada Kamis (10/3/2022).

Vasyl dan Svitlana disambut langsung oleh Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Prof Abdul Mu'ti dan Koordinator Muhammadiyah Aid Wachid Ridwan. Sementara, Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Haedar Nashir, Ketua PP Muhammadiyah Syafiq Mughni, dan Sekretaris PP Muhammadiyah Agung Danarto menghadiri pertemuan itu secara daring.

Baca Juga

Kepada Duta Besar Ukraina, Prof Haedar menyampaikan duka cita mendalam atas musibah yang menimpa rakyat Ukraina. "Kami berempati dan bersimpati pada bangsa Ukraina yang saat ini mengalami musibah," kata Prof Haedar dalam pertemuan tersebut, Kamis (10/3/2022).

Ia menyampaikan, ada macam-macam yang mengatakan ini sebagai invasi, agresi, atau operasi militer. Tapi apapun yang terjadi dan dialami masyarakat Ukraina adalah tragedi kemanusiaan yang tidak boleh terjadi di dunia modern yang menjunjung penghargaan terhadap hak asasi manusia, global etik yang tinggi dan nilai-nilai luhur peradaban antar bangsa.

Prof Haedar berharap Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) berperan dan bertindak tegas agar tragedi serupa tidak terjadi di tempat lain. Pemerintah Indonesia juga diharapkan berperan aktif mengupayakan resolusi konflik sesuai dengan prinsip bebas dan aktif.

Ia menegaskan, tidak ada alasan untuk meneruskan agresi yang merupakan warisan masa lalu peradaban destruktif.

"Saya yakin Tuhan tidak pernah merestui atau mengizinkan, sekaligus akan murka jika bangsa-bangsa di dunia masih mengedepankan agresi dan tindakan yang mengedepankan kerusakan. Dunia ini terlalu sempit untuk kancah agresi dan neo-kolonialisme dalam bentuk apapun di mana Indonesia pernah merasakan betul penderitaannya," jelas Prof Haedar.

Vasyl sebagai Duta Besar Ukraina untuk Indonesia berharap dukungan moril dari Muhammadiyah. Menurutnya, konflik yang terjadi juga ikut mengancam eksistensi kaum Muslimin Ukraina yang terdiri dari beragam suku dari Tatar, Turk, Azerbaijan, hingga Chechnya.

"Semoga dialog ini memperbaiki dan membawa kedamaian bagi tanah kami. Tidak ada seorang pun mampu melihat tragedi seperti ini," kata Vasyl.

Di tempat yang sama, Prof Mu'ti selaku Sekretaris Umum PP Muhammadiyah mengungkapkan bahwa Muhammadiyah pernah berkunjung ke Kiev, Ukraina pada Oktober 2018. Di sana bertemu dengan berbagai organisasi Islam lokal dan membicarakan sejumlah kerjasama.

Terkait konflik yang saat ini tengah terjadi, Prof Mu'ti mengatakan ada rencana Muhammadiyah untuk memberikan bantuan kepada korban perang melalui lembaga bantuan internasional milik Persyarikatan, Muhammadiyah Aid.

"Kami berdoa agar rakyat Ukraina berjuang mempertahankan tanah mereka dan menemui kehidupan yang damai," ujarnya.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement