Rabu 09 Mar 2022 19:23 WIB

Banjir di Pasuruan, Jatim Akibatkan 7. 275 Warga Terdampak

Warga di pinggir sungai diminta segera melakukan evakuasi sementara jika hujan lebat

Rep: Rr laeny sulisyawati/ Red: Hiru Muhammad
Warga mengamati rumahnya yang rusak akibat banjir luapan Sungai Welang di Desa Sukorejo, Pohjentrek, Pasuruan, Jawa Timur, Rabu (9/3/2022) Sebanyak empat rumah dan jembatan gantung setempat rusak parah akibat banjir bandang yang dipicu luapan air Sungai Welang.
Foto: Antara/Umarul Faruq
Warga mengamati rumahnya yang rusak akibat banjir luapan Sungai Welang di Desa Sukorejo, Pohjentrek, Pasuruan, Jawa Timur, Rabu (9/3/2022) Sebanyak empat rumah dan jembatan gantung setempat rusak parah akibat banjir bandang yang dipicu luapan air Sungai Welang.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Bencana banjir yang melanda Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur  berdampak kepada 7.275 jiwa atau 3.325 KK, hingga per Rabu (9/3/2022). Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pasuruan juga mencatat sedikitnya enam unit rumah rusak sedang, satu unit jembatan rusak, tiga titik tanggul sungai jebol dan kurang lebih 137 hektar lahan pertanian terendam banjir dengan tinggi muka air 30-150 sentimeter.

"Menurut perkembangan kondisi terakhir saat ini, banjir telah berangsur-angsur surut," kata Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Abdul Muhari seperti dalam keterangan tertulis, Rabu (9/3/2022).

Baca Juga

Ia menambahkan, warga mulai membersihkan sisa lumpur akibat banjir dengan alat seadanya. Meskipun banjir telah berangsur-angsur surut, dia melanjutkan,  Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan hujan dengan intensitas ringan hingga tinggi masih berpotensi terjadi di wilayah Pasuruan dan sekitarnya hingga Jumat (11/3/2022).

"Menyikapi hal itu, maka BNPB kembali mengimbau kepada seluruh unsur pemerintah daerah dan masyarakat agar dapat mengantisipasi adanya potensi bencana susulan yang dapat dipicu oleh faktor cuaca," katanya 

Ia menambahkan, upaya seperti pemantauan dan pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS), pembersihan sampah maupun material lain yang dapat menyumbat aliran air, monitoring kondisi tanggul, jalan dan jembatan hingga pemantauan debit air saat terjadi hujan lebat disarankan perlu dilakukan secara berkala.

Untuk kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana susulan, pihaknya meminta masyarakat di sepanjang aliran sungai agar melakukan evakuasi sementara jika terjadi hujan menerus dengan intesitas tinggi selama lebih dari satu jam. Masyarakat juga diharapkan agar selalu memperhatikan kondisi debit sungai dan menghindari lereng curam yang minim vegetasi. 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement