Senin 07 Mar 2022 21:14 WIB

Laporan: 17 Ribu Senjata Antitank AS dan NATO Dikirim untuk Lawan Rusia

AS dilaporkan juga bantu Ukraina lewat citra satelit untuk pantau pasukan Rusia.

Tentara Ukraina mengendarai kendaraan militer lapis baja di pinggiran Kyiv, Ukraina, Sabtu, 5 Maret 2022.
Foto: AP/Emilio Morenatti
Tentara Ukraina mengendarai kendaraan militer lapis baja di pinggiran Kyiv, Ukraina, Sabtu, 5 Maret 2022.

REPUBLIKA.CO.ID, KIEV -- Pengiriman senjata terus dilakukan AS, NATO, dan sekutu buat pasukan Ukraina yang tengah bertempur melawan Rusia. New York Times, Ahad (7/3/2022), melaporkan, lebih dari 17 ribu senjata antitank, serta misil Javelin telah dikirimkan buat Ukraina. 

AS dan sekutu mengirimkan senjata-senjata itu ke perbatasan Polandia dan Rumania serta menurunkannya dari kargo militer. Selanjutnya, senjata tersebut dikirim melalui jalur darat. Sejauh ini, tulis Times, Rusia belum menargetkan jalur suplai senjata tersebut.

Baca Juga

Namun bantuan yang dikirimkan tidak hanya senjata. Menurut seorang pejabat AS, Komando Siber Amerika Serikat juga turun tangan ke Eropa Timur untuk melawan serangan siber Rusia. 

Di Washington dan Jerman, intelijen AS juga mengirimkan foto satelit dan cegatan elektronik yang diperoleh dari militer Rusia ke militer Ukraina. Dengan demikian, pasukan Ukraina mengetahui gerak-gerak tentara Rusia.

Sebelumnya Kepala Gabung Angkatan Bersenjata AS Jenderal Mark Milley dilaporkan turun langsung memasok senjata-senjata tersebut. Pejabat Kementerian Pertahanan AS, seperti dilansir CNN, beberapa waktu lalu mengatakan, Milley berangkat pekan lalu ke sebuah lokasi pangkalan rahasia dekat perbatasan Ukraina di Eropa Timur.  Saat berada di pangkalan tersebut, Milley bertemu dengan personel dan pasukan untuk memeriksa pengepakan senjata

Lokasi ini menjadi salah satu pusat aktivitas dalam beberapa hari terakhir. Dari hanya beberapa penerbangan, kini sampai ke batas maksimum 17. Lokasi bandara masih dirahasiakan untuk melindungi pengiriman senjata, termasuk senjata antimisil ke Ukraina.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement