Sunday, 29 Safar 1444 / 25 September 2022

Tiga Kasus Leptospirosis Telah Ditemukan di Sleman

Ahad 06 Mar 2022 19:34 WIB

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Bilal Ramadhan

Penyakit Leptospirosis. Dinkes Sleman menemukan tiga kasus leptospirosis sampai Maret 2022 (ilustrasi).

Penyakit Leptospirosis. Dinkes Sleman menemukan tiga kasus leptospirosis sampai Maret 2022 (ilustrasi).

Foto: infokedokteran.com
Sampai Maret 2022, Dinkes Sleman telah menemukan tiga kasus leptospirosis.

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Leptospirosis tergolong penyakit hewan yang bisa menjangkiti manusia atau zoonosis. Penyakit ini disebabkan infeksi bakteri leptospira berbentuk spiral yang menyerang hewan dan manusia, dapat hidup di air tawar sekitar satu bulan.

Kepala Dinkes Sleman, Cahya Purnama mengatakan, sampai Maret 2022 sudah ada tiga kasus leptospirosis yang ditemukan di Kabupaten Sleman. Ia bersyukur, semua kasus yang dilaporkan bisa tertangani, sehingga tidak ada korban yang meninggal dunia.

Baca Juga

Cahya menerangkan, leptospirosis diakibatkan kencing tikus dengan gejala-gejala seperti flu, suhu badan tinggi, nyeri di betis, mata berwarna merah atau kuning. Ia mengimbau warga yang merasakan gejala-gejala tersebut cepat memeriksakan diri.

Ia melihat, selama ini masyarakat kerap mengira gejala-gejala seperti demam yang mereka alami merupakan flu biasa. Tapi, ia mengingatkan, jika ada rasa nyeri di betis dan mata merah atau kuning, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter.

"Lepto ini berawal dari air kencing tikus, sebenarnya dengan diberikan antibiotik sembuh, namun jika terlambat ditangani, maka bisa berbahaya dan berakibat fatal," kata Cahya, Ahad (6/3).

Walaupun belum ada laporan meninggal untuk kasus leptospirosis tahun ini, ia meminta masyarakat tetap waspada. Terutama, bagi mereka yang bertempat tinggal atau berkegiatan di lokasi-lokasi endemi dan biasanya banyak di persawahan.

"Setiap tahun ada kejadian meninggal. Kemarin di Minggir, Moyudan, Turi, tapi sekarang sudah mulai masuk ke Berbah juga ada," ujar Cahya.

Masa peralihan musim penghujan, Cahya turut meminta warga Sleman dapat mewaspadai DBD. Sepanjang 2021, terdapat 282 kasus DBD dengan satu meninggal dunia di Sleman. Jumlah ini cenderung menurun dibanding 2020 dengan 810 dengan dua meninggal dunia.

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA