Sunday, 14 Rajab 1444 / 05 February 2023

Arab Saudi Naikkan Harga Minyak di Semua Wilayah

Sabtu 05 Mar 2022 21:57 WIB

Rep: Mabruroh/ Red: Friska Yolandha

Truk berjejer di fasilitas Saudi Aramco. Arab Saudi menaikkan harga minyak untuk semua wilayah di kerajaan.

Truk berjejer di fasilitas Saudi Aramco. Arab Saudi menaikkan harga minyak untuk semua wilayah di kerajaan.

Foto: AP Photo/Amr Nabil
Banyak pembeli menghindari minyak mentah Rusia karena khawatir dapat melanggar sanksi

REPUBLIKA.CO.ID, RIYADH -- Arab Saudi menaikkan harga minyak untuk semua wilayah di kerajaan. Kenaikan harga ini menyusul harga minyak mentah yang melonjak karena serangan militer Rusia di Ukraina menjadi lebih dari 115 dolar AS (Rp 1,6 juta) per barel.

Saudi Aramco yang dikendalikan negara menaikkan harga minyak mentah Arab Light untuk pengiriman bulan depan ke Asia menjadi 4,95 dolar AS (Rp 72 ribu) per barel di atas patokan yang digunakannya. Itu adalah peningkatan 2,15 dolar AS (Rp 30 ribu) per barel dari Maret dan premi tertinggi untuk kelas tersebut sejak Bloomberg mulai mengumpulkan data pada 2000.

Baca Juga

“Perusahaan energi diperkirakan akan menaikkan harga sebesar 1,70 dolar AS” menurut survei terhadap para pedagang dan penyuling, dilansir dari The National News, Sabtu (5/3/2022).

Aramco menaikkan harga untuk grade lain untuk Asia sebanyak 2,70 dolar AS (Rp 39 ribu) per barel. Ini menaikkan semua harga untuk pelanggan AS sebesar 1 dolar AS (Rp 14 ribu) dolar dan untuk Eropa barat laut antara 1,20 dolar (Rp 17 ribu) dolar dan 2,10 dolar AS (Rp 3 ribu). Untuk Mediterania, harga meningkat sebanyak 2 dolar AS (Rp 29 ribu).

Minyak diperdagangkan pada level tertinggi dalam hampir satu dekade karena serangan Rusia di Ukraina menjungkirbalikkan pasar dari komoditas ke saham dan obligasi. Banyak pembeli menghindari minyak mentah dari Rusia karena khawatir mereka dapat melanggar sanksi, meskipun AS dan Eropa telah menghindari secara langsung menghukum ekspor energi Moskow. Yakni meregangkan pasar yang sudah ketat dan memaksa pembeli untuk mencari pasokan alternatif, termasuk dari Timur Tengah.

Keputusan Aramco muncul setelah OPEC+, yang dipimpin oleh Arab Saudi dan Rusia, pada Rabu memilih untuk terus menaikkan produksi hanya secara bertahap. Itu terlepas dari tekanan dari importir utama, termasuk AS, agar anggota kelompok Teluk itu memompa lebih cepat dan membantu menurunkan harga bahan bakar.

Lebih dari 60 persen pengiriman minyak Arab Saudi pergi ke Asia, dengan China, Jepang, Korea Selatan, dan India sebagai pembeli terbesar. Pergerakan harga Aramco sering menjadi penentu bagi produsen lain di Timur Tengah.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA