Wednesday, 19 Muharram 1444 / 17 August 2022

Sebagian Orang Susah Tertular Covid-19, Ini Alasannya

Kamis 03 Mar 2022 10:41 WIB

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Nora Azizah

Sebagian orang susah tertular meski berada di lingkungan pasien Covid-19.

Sebagian orang susah tertular meski berada di lingkungan pasien Covid-19.

Foto: www.freepik.com.
Sebagian orang susah tertular meski berada di lingkungan pasien Covid-19.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebagian orang cenderung sukar tertular Covid-19. Salah satunya adalah Phoebe Garrett dari High Wycombe, Inggris. Perempuan 22 tahun itu sudah beberapa kali ada di lingkungan di mana banyak orang dinyatakan tertular Covid-19, namun dia tidak terinfeksi.

Garrett menghadiri kuliah di kampusnya tanpa tertular Covid-19. Dia bahkan menjadi tuan rumah pesta di mana semua orang dinyatakan positif kecuali dia. "Ibu saya selalu mengatakan bahwa keluarga kami tidak pernah terkena flu, dan saya bertanya-tanya apakah mungkin ada sesuatu di balik itu," ujarnya.

Baca Juga

Maret 2021, Garrett berpartisipasi dalam uji coba tantangan Covid-19 pertama di dunia. Peneliti meneteskan virus hidup ke dalam hidung peserta dan membiarkannya selama beberapa jam sebagai upaya infeksi yang disengaja. Nyatanya, tubuh Garrett melawan

Dia dan peserta lain menjalani beberapa putaran tes dan metode pengujian yang berbeda. Ada tes usap tenggorokan, usap hidung, tes darah, dan jenis usap lain yang belum pernah dia lakukan seperti sumbu hidung. Selama tes, dia tidak pernah positif dan tak mengalami gejala.

Sama seperti Garrett, ada sebagian individu yang sulit tertular Covid-19 meskipun orang di sekitarnya jatuh sakit. Para ilmuwan berusaha mengidentifikasi mekanisme itu. Harapannya, dapat mengarah pada pengembangan obat yang melindungi dari penularan Covid-19 dan mencegah pasien menularkannya.

Selain Garrett, dari 34 peserta yang sengaja dipapar virus dalam uji coba, 16 gagal mengembangkan infeksi (melalui dua tes PCR positif berturut-turut). Namun, setengah dari peserta dites positif untuk virus tingkat rendah, seringkali beberapa hari setelah terpapar.

Menurut peneliti, itu adalah cerminan sistem kekebalan yang dengan cepat mematikan infeksi embrionik. Profesor Christopher Chiu dari Imperial College London yang memimpin penelitian menyoroti studi sebelumnya yang dia gagas. Riset terdahulu menemukan respons imun awal di hidung melawan infeksi.

"Bersama-sama, temuan ini menyiratkan bahwa ada perjuangan antara virus dan inang, yang ditunjukkan pada peserta kami yang 'tidak terinfeksi' dalam menghasilkan pencegahan infeksi," ujar Chiu, dikutip dari laman The Guardian, Kamis (3/3/2022).

Studi lain juga menunjukkan kemungkinan untuk menyingkirkan Covid-19 di tahap awal infeksi. Selama gelombang pertama pandemi, Leo Swadling dari University College London dan rekannya secara intensif memantau petugas kesehatan yang teratur kontak dengan pasien yang terinfeksi Covid-19 namun tidak pernah dites positif.

Tes darah mengungkapkan bahwa sekitar 15 persen dari mereka memiliki sel T yang reaktif terhadap Sars-CoV-2, ditambah penanda infeksi virus lainnya. Kemungkinan sel T memori dari infeksi virus corona sebelumnya bereaksi silang dengan virus corona baru dan melindungi mereka dari Covid-19.

Sebagian kecil orang bahkan mungkin secara genetik resisten terhadap Covid-19. Oktober 2021, sebuah konsorsium peneliti internasional berusaha menemukan beberapa dari mereka. Profesor András Spaan dari Universitas Rockefeller di New York, Amerika Serikat, yang memimpin penelitian, tertarik pada orang yang berbagi rumah dan tempat tidur dengan orang yang terinfeksi, tetapi selalu berhasil menghindari infeksi. 

"Bisa jadi, pada beberapa individu, ada cacat pada reseptor yang digunakan oleh Sars-CoV-2," kata Spaan.

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 

BERITA TERKAIT

 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA