Rabu 02 Mar 2022 23:42 WIB

Mau Bisnis Kuliner Anda Bertahan di Tengah Pandemi? Ikuti Tips dari Pakar Ini

Kondisi pandemi telah memicu konsumen memiliki minat khusus atas makanan sehat.

Inovasi menjadi kunci strategi yang bisa dilakukan produsen makanan dan minuman untuk bertahan di tengah pandemi. (ilustrasi)
Foto: ANTARA/M Ibnu Chazar
Inovasi menjadi kunci strategi yang bisa dilakukan produsen makanan dan minuman untuk bertahan di tengah pandemi. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Komite & Pengembangan UKM Gabungan Produsen Makanan Minuman Indonesia (Gapmmi), Irwan S Widjaja, menyampaikan bahwa inovasi menjadi kunci strategi yang bisa dilakukan produsen makanan dan minuman untuk bertahan di tengah pandemi.

Dalam mempertahankan industri mamin (makanan dan minuman) adalah bagaimana kita bisa menciptakan suatu produk yang inovatif namun affordable (terjangkau) bagi konsumen," kata Irwan dalam webinar bertajuk "Bedah Dapur: Restoran Tetap Ngebul di Masa Pandemi Lewat Efisiensi Biaya Operasional" pada Rabu (2/3/2022).

Baca Juga

Menurut Irwan, kondisi pandemi seharusnya bukan menjadi hambatan. Sebaliknya, pandemi justru dapat dijadikan pembelajaran dan tantangan bagi para pengusaha untuk menciptakan inovasi.

Irwan mengatakan, zaman sekarang telah membuka kemungkinan produsen untuk mempelajari dan memperhatikan kebiasaan konsumen. Berangkat dari hal tersebut, lanjutnya, produsen dapat membuat inovasi produk yang dibutuhkan konsumen.

Irwan mencontohkan bagaimana kondisi pandemi telah memicu konsumen memiliki minat khusus atas makanan sehat (healthy food). Saat ini konsumen juga telah sadar dan lebih pintar untuk memilih makanan yang lebih sehat.

"Orang mulai banyak di rumah dan jarang keluar karena takut (tertular Covid-19). Artinya produsen bisa mulai memperhatikan, (perhatian) masyarakat itu adalah healthy food. Kita harus bidik ke sana," ujarnya.

Irwan memandang sebetulnya saat ini telah banyak produsen yang semakin kreatif dalam menciptakan inovasi produk makanan dan minuman. Sebagai contoh, kondisi pandemi memicu produsen untuk membuat produk makanan beku (frozen food) yang dinilai lebih menguntungkan.

Makanan beku dan siap saji juga dapat memberi keuntungan dari sisi efisiensi bagi konsumen serta pembuat makanan dalam skala besar seperti resto di hotel. "Hotel sudah memperkirakan jumlah tamu yang datang berapa dan makanan yang disajikan berapa sehingga tidak banyak makanan yang terbuang," ujar Irwan.

Tidak hanya perihal produk, menurut Irwan kreativitas juga perlu diterapkan dalam berbagai aspek di internal bisnis, seperti memberdayakan sumber daya manusia yang ada di sekitar dan tidak harus selalu merekrut pekerja baru.Irwan mengatakan Gapmmijuga kerap mendiskusikan permasalahan yang dihadapi dalam ekosistem antarprodusen untuk bertahan di masa pandemi.

"Kami berbicara bagaimana supaya produk tetap diminati namun harus menciptakan produk yang affordable bagi konsumen, juga tanpa mengurangi kualitas produk itu, dan kami juga mampu dari sisi produsen untuk membiayai para karyawan," katanya.

Merujuk data Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), tercatat lebih dari 1.000 restoran tutup permanen sejak pandemi melanda pada Maret 2020 hingga Juli 2021. Menurut Irwan, usaha makanan dan minuman yang gulung tikar memiliki banyak faktor, pandemi bukan menjadi satu-satunya faktor.

"Kalau kita bicara sebuah usaha tutup itu banyak faktor. mungkin salah dalam hal manajemennya atau manajemen keuangan. Bisa juga karena tidak ada kreativitas dan inovasi," katanya.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement