Sunday, 3 Jumadil Awwal 1444 / 27 November 2022

Penelitian Ungkap Masih Ada Persepsi Bahwa SKM adalah Susu Pertumbuhan

Ahad 27 Feb 2022 23:30 WIB

Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Yayasan Abhipraya Insan Cendekia (YAICI) mengadakan launching dan bedah buku yang berjudul Masa Depan Anak Indonesia Terganggu Susu Kental Manis.  Ketua Harian YAICI Arif Hidayat mengatakan penulisan buku tersebut berangkat dari hasil penelitian yang dilakukan YAICI bersama para mitra di beberapa daerah di Indonesia.

Yayasan Abhipraya Insan Cendekia (YAICI) mengadakan launching dan bedah buku yang berjudul Masa Depan Anak Indonesia Terganggu Susu Kental Manis. Ketua Harian YAICI Arif Hidayat mengatakan penulisan buku tersebut berangkat dari hasil penelitian yang dilakukan YAICI bersama para mitra di beberapa daerah di Indonesia.

Foto: istimewa
Penelitian YAICI, PP Aisyiah dan Muslimat NU ungkap ancaman SKM terhadap anak

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Anak merupakan generasi penerus yang harus kita jaga kesehatannya dan tumbuh kembangnya dengan memberikan asupan yang sesuai dengan usianya. Oleh karena itu penting bagi masyarakat khususnya orang tua untuk mengetahui literasi gizi. Sehingga orang tua tidak salah memberikan asupan makanan yang baik dan salah dalam pola asuh.

Terkait dengan itu, Yayasan Abhipraya Insan Cendekia (YAICI) mengadakan launching dan bedah buku yang berjudul “Masa Depan Anak Indonesia Terganggu Susu Kental Manis”.  Ketua Harian YAICI Arif Hidayat mengatakan penulisan buku tersebut berangkat dari hasil penelitian yang dilakukan YAICI bersama para mitra di beberapa daerah di Indonesia. Berdasarkan temuan YAICI di lapangan, Arif mengungkapkan pemahaman masyarakat mengenai gizi di Indonesia sangat mengkhawatirkan. 

Hal itu terlihat dari bagaimana persepsi masyarakat mengenai susu kental manis. Dari temuan di 5 Provinsi di Indonesia yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Maluku dan NTT didapati angka yang cukup tinggi yaitu sebanyak 28,96 persen masyarakat mengatakan bahwa SKM adalah susu pertumbuhan. 

“Bahkan sebanyak 16,79 persen ibu memberikan kental manis untuk anak setiap hari. Padahal, fakta menyebutkan SKM tidak lah sama dengan susu dan tidak dpat mendukung tumbuh kembang kesehatan anak. Hal ini dibuktikan dengan fakta bahwa kandungan gula SKM sangatlah tinggi yaitu 51 persen sampai 56 persen dengan kandungan lemak SKM berkisar 43 persen hingga 48 persen yang artinya produk SKM ini dapat dikategorikan sebagai bukan susu melainkan pemanis dengan perisa susu,” jelas Arif Hidayat. 

Ketua Majelis Kesehatan PP Aisyiyah, Dra Chairunnisa, M.Kes mengatakan, mengapa masyarakat masih mengonsumsi kental manis, karena kental manis cepat mudah terjangkau di dapat di pelosok-pelosok dan murah. “Hal ini ada korelasi dengan penelitian kami.” Salah persepsi SKM dikonsumsi oleh masyarakat,” kata Dra Chairunnisa, M.Kes saat memberikan sambutan dalam peluncuran dan diskusi buku “Masa Depan Anak Indonesia Terganggu Susu Kental Manis,” di Jakarta, Jumat (25/2).

Dr Tria Astika EP, S.K.M., M.K.M peneliti dari PP Aisyiah mengatakan dampak konsumsi kental manis tidak hanya stunting, anak juga terkena anemia. Secara kognitif, Tria berharap dengan terbitnya buku ini, akan memberikan informasi, intervensi yang diberikan ini sudah benar atau belum.

Sedangkan dalam acara tersebut, Maman Suherman selaku pegiat literasi mengatakan mengapresiasi kepada YAICI yang telah berjuang. Menurutnya, masalah minat baca di Indonesia bukan hanya tidak suka membaca.

“Bukan masalah Indonesia yang tidak suka baca. Persoalannya adalah jauhnya akses ke baca. Masyarakat bisa membaca, tapi persoalannya paham nggak dengan apa yang dibaca? Ini yang menjadi persoalan literasi. Sebagai contoh, susu kental manis sudah jelas tertara kandungan gula tinggi dan protein rendah, tapi tetap disebut susu dan diberikan untuk anak. Di supermarket tetap di taruh di rak susu, ini kan menandakan kita tidak paham denga napa yang kita baca,” jelas Maman Suherman.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA