Sabtu 26 Feb 2022 03:25 WIB

Arab Saudi Kecam Embargo Senjata Jerman

Arab Saudi mengatakan butuh senjata untuk mempertahankan diri dari serangan Houthi.

Rep: Umi Nur Fadhilah/ Red: Ani Nursalikah
 Orang-orang pergi setelah mengumpulkan kasur dan barang-barang perlindungan lainnya yang disediakan oleh Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) dan Dewan Pengungsi Norwegia, di kota al-Jarahi, di provinsi pelabuhan Hodeidah, Yaman, 10 Februari 2022 (dikeluarkan 14 Februari 2022) ). Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) memperkirakan bahwa lebih dari 2.500 rumah tangga Yaman (hampir 16.000 orang) telah mengungsi pada Januari 2022 saja, karena pertempuran antara Houthi dan pasukan pemerintah yang didukung Saudi di provinsi Yaman Marib, Hodeidah dan Taiz. Jumlah total pengungsi Yaman meningkat menjadi lebih dari 4,2 juta karena perang yang meningkat selama tujuh tahun, UNHCR baru-baru ini memperkirakan. Perang yang meningkat telah menyebabkan 80 persen dari 30 juta penduduk Yaman sangat membutuhkan bantuan kemanusiaan, mendorong PBB untuk mempertimbangkan krisis kemanusiaan di negara Arab sebagai yang terburuk di dunia. Koalisi militer pimpinan Saudi-UEA telah melakukan intervensi dalam perang Yaman sejak Maret 2015 untuk memulihkan pemerintah Yaman setelah Houthi menguasai sebagian besar Yaman utara, termasuk Sanaa. Arab Saudi Kecam Embargo Senjata Jerman
Foto: EPA-EFE/YAHYA ARHAB
Orang-orang pergi setelah mengumpulkan kasur dan barang-barang perlindungan lainnya yang disediakan oleh Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) dan Dewan Pengungsi Norwegia, di kota al-Jarahi, di provinsi pelabuhan Hodeidah, Yaman, 10 Februari 2022 (dikeluarkan 14 Februari 2022) ). Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) memperkirakan bahwa lebih dari 2.500 rumah tangga Yaman (hampir 16.000 orang) telah mengungsi pada Januari 2022 saja, karena pertempuran antara Houthi dan pasukan pemerintah yang didukung Saudi di provinsi Yaman Marib, Hodeidah dan Taiz. Jumlah total pengungsi Yaman meningkat menjadi lebih dari 4,2 juta karena perang yang meningkat selama tujuh tahun, UNHCR baru-baru ini memperkirakan. Perang yang meningkat telah menyebabkan 80 persen dari 30 juta penduduk Yaman sangat membutuhkan bantuan kemanusiaan, mendorong PBB untuk mempertimbangkan krisis kemanusiaan di negara Arab sebagai yang terburuk di dunia. Koalisi militer pimpinan Saudi-UEA telah melakukan intervensi dalam perang Yaman sejak Maret 2015 untuk memulihkan pemerintah Yaman setelah Houthi menguasai sebagian besar Yaman utara, termasuk Sanaa. Arab Saudi Kecam Embargo Senjata Jerman

IHRAM.CO.ID, RIYADH -- Arab Saudi mengkritik embargo senjata Jerman. Negara itu menggambarkan tindakan ini sebagai “sinyal yang sangat salah”.

Menteri Luar Negeri Arab Saudi Faisal Bin Farhan mengatakan Kerajaan membutuhkan senjata untuk mempertahankan diri dari serangan Houthi dari negara tetangga Yaman. “Kami tidak membutuhkan senjata untuk menjadi agresif tetapi, sebaliknya, untuk dapat melindungi negara dan rakyat kami,” kata Faisal dilansir Middle East Monitor, Jumat (25/2/2022).

Baca Juga

Faisal mengatakan Kerajaan telah bekerja sama dengan Jerman dalam persenjataan untuk waktu yang lama. Dia menekankan Arab Saudi ingin melanjutkan kemitraan dengan Jerman. Namun, dia mengatakan Kerajaan mudah mendapatkan apa yang dibutuhkan, baik itu dari Jerman atau negara manapun.

Pada November 2018, mantan kanselir Jerman Angela Merkel telah menghentikan ekspor senjata ke Arab Saudi. Pemerintah petahanan yang dipimpin oleh Olaf Scholz, Partai Sosial Demokrat, Partai Hijau, dan Partai Demokrat Bebas, baru-baru ini mengatakan mereka akan melanjutkan embargo senjata terhadap Arab Saudi. Pemerintah Jerman sebelumnya telah mengizinkan beberapa pengecualian untuk proyek bersama NATO, di mana mereka telah mengeluarkan lisensi ekspor ke Arab Saudi.

https://www.middleeastmonitor.com/20220224-saudi-arabia-slams-germanys-arms-embargo/

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement