Saturday, 9 Jumadil Awwal 1444 / 03 December 2022

Pengrajin Tahu Kembali Produksi, Harga Kedelai tak Juga Turun

Kamis 24 Feb 2022 19:14 WIB

Rep: Shabrina Zakaria/ Red: Andi Nur Aminah

Pekerja memproduksi tempe di Kelurahan Pasir Kuda, Kota Bogor, Jawa Barat, Rabu (23/2/2022). Industri rumahan tersebut kembali memproduksi tempe hingga 300-400 kilogram per hari namun memperkecil ukuran berat tempe dari sebelumnya 9 ons menjadi 7 ons karena masih tingginya harga kacang kedelai impor yang mencapai Rp11.500-Rp11.700 per kilogram.

Pekerja memproduksi tempe di Kelurahan Pasir Kuda, Kota Bogor, Jawa Barat, Rabu (23/2/2022). Industri rumahan tersebut kembali memproduksi tempe hingga 300-400 kilogram per hari namun memperkecil ukuran berat tempe dari sebelumnya 9 ons menjadi 7 ons karena masih tingginya harga kacang kedelai impor yang mencapai Rp11.500-Rp11.700 per kilogram.

Foto: Antara/Arif Firmansyah
Kini harga kedelai berada di kisaran angka Rp 11.600 per kilogram.

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR -- Setelah mogok produksi massal selama tiga hari, para pengrajin tahu di Bogor sudah mulai memproduksi tahu sejak Rabu (23/2) malam. Meski sudah melakukan aksi mogok massal, harga kedelai bahan baku tahu belum juga turun.

Sekjen Sedulur Pengrajin Tahu Indonesia (SPTI), Musodik, mengatakan, sebelum aksi mogok massal harga kedelai berada di angka Rp 11.300 per kilogram. Namun, kini harga kedelai berada di kisaran angka Rp 11.600 per kilogram.

Baca Juga

“Justru yang kami masih bingung ini, setelah ada aksi mogok massal, satu-satunya harapan kami kan untuk menekan angka kedelai. Tapi, pada faktanya ini setelah produksi malah cenderung ada kenaikan,” kata Sodik melalui telepon selulernya, Kamis (24/2).

Lebih lanjut, Sodik mengatakan, Primer Koperasi Produsen Tempe dan Tahu Indonesia (Primkopti) telah berdialog dengan pemerintah. Sedangkan, SPTI bersifat hanya mendukung, termasuk pada aksi mogok massal lalu.

Dari hasil dialog tersebut, kata Sodik, jawaban dari pemerintah seakan belum berpihak pada pengrajin tahu dan tempe, meski alasan mengenai naiknya harga kedelai dinilainya cukup masuk akal. Seperti faktor cuaca, pekerja di luar negeri mogok, atau diborong Cina untuk pakan ternak. 

“Sebenarnya alasan tersebut menurut saya memang masuk akal. Tapi, sebenarnya yang perlu kita cari tahu sebenarnya harga dasar dari sana (luar negeri) berapa, terus sampai ke kami seharusnya harga berapa,” ujar Sodik.

Ia mengatakan, pihaknya selaku pengrajin tidak memiliki kuasa untuk mencari tahu lebih dalam terkait hal tersebut. “Kenyataannya kami hanya pengrajin. Artinya, kita mau harga kedelai paling tidak normal karena di angka Rp 11.600 per kilogram seluruh pengrajin tahu malah pada nombok,” ujarnya.

Di samping meningkatnya harga kedelai, Sodik mengaku tidak bisa menaikkan harga tahu di pasaran dengan berbagai pertimbangan. Di mana harga tahu biasanya ditentukan oleh SPTI.

Dia menyebutkan, salah satu pertimbangan tidak dinaikkannya harga tahu, yakni karena daya beli masyarakat melemah. Jika harga tahu dinaikkan, dikhawatirkan daya beli masyarakat terhadap tahu malah semakin hilang. Sehingga mengakibatkan produksi tahu malah menurun.

“Tapi, setelah (harga tahu) enggak naik, dengan harga kacang yang semakin naik kita yang repot sendiri. Serbasalah memang. Simpelnya, kita pelaku usaha saja masih memikirkan rakyat, konsumen. Tapi kenapa pemerintah seolah tidak memikirkan kami,” katanya.

 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA