Rabu 23 Feb 2022 20:13 WIB

Arab Saudi Umumkan Pandemi di Negaranya Segera Berakhir

Arab Saudi menangani pandemi secara serius dan segera menutup perbatasan.

Rep: Mabruroh/ Red: Ani Nursalikah
Seorang petugas menyemprotkan disinfektan usai pelaksanaan Shalat Jumat di masjid Al-Jaffali, Jeddah, Arab Saudi, Jumat (30/4). Arab Saudi Umumkan Pandemi di Negaranya Segera Berakhir
Foto: AP/Amr Nabil
Seorang petugas menyemprotkan disinfektan usai pelaksanaan Shalat Jumat di masjid Al-Jaffali, Jeddah, Arab Saudi, Jumat (30/4). Arab Saudi Umumkan Pandemi di Negaranya Segera Berakhir

REPUBLIKA.CO.ID, RIYADH -- Pandemi Covid-19 di Arab Saudi akan segera berakhir. Hal ini disampaikan langsung oleh Asisten Deputi Menteri Kesehatan Bidang Pencegahan Kesehatan Abdullah Asiri.

“Arab Saudi salah satu negara yang paling sedikit terkena virus. Arab Saudi akan keluar dari pandemi dengan ekonomi dan sektor kesehatan yang lebih kuat,” ujar Asiri, dilansir dari Saudi Gazette, Rabu (23/2/2022).

Baca Juga

Asiri mengatakan sejak awal pandemi Covid-19 menyebar, Arab Saudi menanganinya secara serius dan segera melakukan pembatasan dan menutup negaranya. Di saat para pemimpin dunia masih ragu dan menolak.

Ketika penyebaran virus semakin merajalela, Raja Salman segera memperingatkan orang-orang Saudi, dengan mengatakan: “Kami menghadapi situasi luar biasa yang memerlukan tindakan luar biasa.” 

Asiri juga mengatakan  salah satu alasan perbedaan Kerajaan adalah tekadnya yang cepat dalam menghadapi tantangan, sambil memperkenalkan tata kelola tingkat tinggi dan efektif di mana semua pihak terkait berpartisipasi, dan ini membantunya mengambil keputusan tegas dan cepat. 

“Kerajaan telah memberikan prioritas kesehatan manusia di atas segalanya dan telah mempercayakan Kementerian Kesehatan dan Otoritas Kesehatan Masyarakat untuk mempertahankan prioritas ini dengan melakukan penilaian risiko yang berkelanjutan,” kata Asiri.

Dia mencatat kementerian telah mengusulkan cara-cara ideal untuk membantu dalam menangani elemen risiko dan untuk melindungi kesehatan warga dan penduduk. Kerajaan mendasarkan keputusannya pada rekomendasi komite ilmiah dengan mengadopsi pendapat ilmiah, dan salah satu keputusan yang paling berpengaruh terkait dengan vaksin Covid-19 dan juga adopsi konsep kekebalan komunitas dan perluasan tes. 

“Aplikasi Tawakkalna, Tabaud, Sehhaty, Tatamman diperkenalkan, dan masing-masing memiliki kisah sukses yang unik untuk Kerajaan,” kata Al-Asiri. 

Al-Asiri mencontohkan Arab Saudi, sejak hari pertama pandemi coronavirus telah mendapat manfaat dari teknologi digital, seperti menggunakan teknik khusus untuk melacak mereka yang terinfeksi virus dan mereka yang kontak dengan yang terinfeksi. Kemudian mendokumentasikan operasi imunisasi.

Dia menambahkan Kerajaan telah mendapat manfaat dari media baru dan komunikasi pemerintah karena menciptakan berbagai kampanye berkelanjutan yang berkomunikasi dengan masyarakat untuk menciptakan kesadaran dengan berbagai cara kreatif.

Kampanye yang paling menonjol adalah: "Kolluna Mas'oul" yang berarti kita semua bertanggung jawab. Lainnya adalah "OyounakTakfi" yang berarti mata Anda cukup untuk komunikasi untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya memakai masker, dan "Nao'ud behat'har" yang berarti kita kembali dengan hati-hati, dan masih banyak lagi.

Arab Saudi telah mengadopsi pengiriman alat diagnostik, pengobatan dan pencegahan yang adil untuk menjangkau negara-negara berpenghasilan rendah. Bersama dengan mitranya, kerajaan telah meluncurkan inisiatif ACT-A, dan merupakan salah satu dari enam negara yang memenuhinya pembagian dana yang adil.

Arab Saudi telah berkontribusi, melalui inisiatif ACT-A, dengan mendistribusikan 1,2 miliar dosis vaksin ke negara-negara berpenghasilan rendah dan 96 juta tes PCR, di samping alat pelindung diri dan obat-obatan.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement