Rabu 23 Feb 2022 13:54 WIB

Jumlah Kasus Positif di Kabupaten Semarang Capai 1.000 Orang

Kabupten Semarang kembali berstatus daerah PPKM level 3, BOR capai 60 persen

Rep: bowo pribadi/ Red: Hiru Muhammad
Pelaksanaan vaksinasi booster oleh Bid Dokkes Polda Jawa Tengah di lingkungan PT Poliplas Group, Kelurahan Gedanganak, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Selasa (22/2). Vaksinasi kali ini menyasar 2.000 pekerja pabrik setempat.
Foto: Republika/Bowo Pribadi
Pelaksanaan vaksinasi booster oleh Bid Dokkes Polda Jawa Tengah di lingkungan PT Poliplas Group, Kelurahan Gedanganak, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Selasa (22/2). Vaksinasi kali ini menyasar 2.000 pekerja pabrik setempat.

REPUBLIKA.CO.ID, UNGARAN--Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Semarang terus berupaya menekan jumlah  pasien Covid-19 di rumah sakit. Langkah ini dilakukan guna menekan laju bed ocupancy rate (BOR) rumah sakit penanganan pasien Covid-19 di daerahnya.

Plt Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Semarang, Dwi Syaiful Nur Hidayat mengamini penambahan kasus aktif Covid-19 di Kabupaten Semarang terus berlangsung dan akumulasi warga yang terpapar saat ini telah menembus 1.000 orang pasien.

Baca Juga

Sehingga Kabupten Semarang kembali berstatus daerah PPKM level 3 berdasarkan Instruksi Menteri Dalam Negeri (Inmendagri) Nomor 12 Tahun 2022 tentang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat Level 4, Level 3, Level 2 Covid-19 di Wilayah Jawa Bali.

Langkah- langkah untuk mengendalikan penularan terus dilakukan oleh Dinkes Kabupaten Semarang bersama dengan seluruh instansi maupun stakeholder terkait.

Selain menggenjot percepatan vaksinasi juga memperkuat kembali edukasi dan sosialisasi pentingnya protokol kesehatan di masyarakat, yang sebagian agak mulai abai setelah kasus Covid-19 beberapa waktu lalu sempat melandai.

“Maka sosialisasi dan edukasi kita perkuat lagi dan penting diingatkan terus agar masyarakat tetap didiplin protokol kesehatan dalam beraktivitas di luar rumah,” jelasnya, di Ungaran, Kabupaten Semarang, Rabu (23/2).

Dinkes Kabupaten Semarang,  berupaya menekan jumlah pasien positif agar rumah sakit tidak penuh. “Insya Allah, Kabupaten Semarang masih bisa untuk mengendalikan angka kesakitan pasien Covid-19 tersebut,” ungkap Syaiful.

Untuk kondisi saat ini, lanjutnya, BOR Covid-19 di rumah sakit yang ada di Kabupaten Semarang telah mencapai 60 persen. Artinya masih menyisakan 40 persen dari jumlah tempat tidur yang disiapkan untuk penanganan Covid-19.

Dinkes Kabupaten Semarang juga menambah kapasitas tempat tidur penanganan Covid-19 di Rumah Sakit (RS) Kusuma, guna menambah kapasitas tempat tidur penanganan pasien Covid-19 dari yang sudah ada di RSUD Gunawan Mangunkusumo (RSGM), RSUD dr Gondo Suwarno (RSGS), RS Bina kasih dan RS Ken Saras.

Khusus penambahan tempat tidur penanganan Covid-19 di RS Kusuma untuk Sementara ini memang masih 10 dan jumlah ini masih memungkinkan untuk ditambah lagi sebagai antisipasi. “Namun harapan kami, BOR di rumah sakit tetap terkendali dan tidak perlu ada penambahan lagi,” tambah Syaiful.

Kebanyakan pasien memang tidak bergejala dan umumnya melakukan isolasi mandiri (isoman) di rumah. Sedangkan untuk kebutuhan suplai obat- obatan Dinkes kabupaten Semarang telah mengedarkan nomor telepon tiap- tiap Puskesmas.

Sehingga obat- obatan yang dibutuhkan akan langsung dikirim ke rumah pasien isoman yang bersangkutan melalui Satgas Jogo Tonggo di lingkungan masing- masing. Atau juga melalui Satgas Covid-19 yang di sana ada pemangku lingkungan Rukun Tetangga (RT), Rukun Warga (RW) perangkat desa, dan bidan desa.

Melalui peran Satgas Jogo Tonggo, Dinkes Kabupaten Semarang juga memastikan pasien isoman akan melakukan treatmen di rumah sampai dinyatakan sembuh tanpa harus keluar dari rumah atau tempat isoman-nya.

Sehingga pasien akan malu sendiri kalau keluar rumah selama menjalani masa isoman, karena berbagai kebutuhannya selama menjalani masa isoman sudah ada yang memenuhi. “Dia sudah disuplai baik makanannya, obat- obatannya dan beberapa keperluan lainnya. Jadi kalau masih jalan- jalan atau keluar rumah akan malu sendiri,” kata Syaiful.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement