Saturday, 9 Jumadil Awwal 1444 / 03 December 2022

Hong Kong Kerahkan Semua Kemampuan untuk Tahan Lonjakan Kasus Covid-19

Ahad 20 Feb 2022 17:16 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Christiyaningsih

 Pasien berbaring di ranjang rumah sakit saat mereka menunggu di ruang tunggu sementara di luar Caritas Medical Center di Hong Kong Rabu, 16 Februari 2022. Ada bukti nyata bahwa rumah sakit Hong Kong kewalahan oleh lonjakan COVID terbaru, dengan pasien menggunakan tandu dan di tenda-tenda yang terlihat oleh petugas medis pada hari Rabu di luar rumah sakit Caritas.

Pasien berbaring di ranjang rumah sakit saat mereka menunggu di ruang tunggu sementara di luar Caritas Medical Center di Hong Kong Rabu, 16 Februari 2022. Ada bukti nyata bahwa rumah sakit Hong Kong kewalahan oleh lonjakan COVID terbaru, dengan pasien menggunakan tandu dan di tenda-tenda yang terlihat oleh petugas medis pada hari Rabu di luar rumah sakit Caritas.

Foto: AP/Vincent Yu
Hong Kong akan dibantu China menahan lonjakan kasus Covid-19

REPUBLIKA.CO.ID, HONG KONG -- Dua pejabat pemerintah Hong Kong mengatakan dengan bantuan pemerintah pusat China, kota itu akan "mengerahkan semua kemampuannya" untuk menahan lonjakan kasus infeksi Covid-19. Caranya adalah dengan menambah fasilitas isolasi dan unit-unit perawatan pasien.

Pada Sabtu (19/2/2022) kemarin Hong Kong melaporkan 6.023 kasus infeksi baru. Kota itu ingin meringankan beban rumah sakit negeri. Dalam pernyataannya pemerintah mengatakan Pelabuhan Kapal Pesiar Kai Tak akan didedikasikan untuk fasilitas Covid-19 yang memiliki 1.000 ranjang pasien.

Baca Juga

Pemimpin Kota Carrie Lam menghadiri peletakan batu pertama pembangunan fasilitas 10 ribu unit perawatan Covid-19 di Penny Bay dekat Disneyland Hong Kong. Ia menyebut inisiatif ini akan memperkuat kapasitas anti-pandemi kota dalam waktu yang sangat singkat.

Sebelumnya pemerintah pusat China memperingatkan pihak berwenang Hong Kong harus segera mengatasi wabah virus corona. Surat kabar pro-Beijing, Ta Kung Pao, melaporkan Presiden Xi Jinping mengatakan kini perang melawan virus harus menjadi misi utama Hong Kong.

"Sesuai dengan instruksi penting Presiden Xi Jinping, pemerintah Hong Kong memasuki keadaan mengerahkan semua kemampuan untuk menstabilkan dan mengendalikan epidemi sebagai tugas utamanya," kata Kepala Sekretaris Hong Kong John Lee dalam unggahan di blognya, Ahad (20/2/2022).

Pusat keuangan dunia itu menerapkan kebijakan "dynamic zero-COVID" seperti yang diterapkan pemerintah pusat di China Daratan. Beberapa pakar menilai langkah itu tidak berkelanjutan dan berkontribusi pada kesulitan yang dihadapi Hong Kong saat ini.

Rumah-rumah sakit Hong Kong kewalahan menghadapi gelombang pasien, terutama kelompok lanjut usia yang belum divaksin. Kepala Kesehatan Kota Sophia Chan mengatakan pemerintah mempertimbangkan untuk melanjutkan peraturan pembatasan sosial. Pemerintah Hong Kong tidak menutup seluruh kota tapi sedang memeriksa 7,4 juta warganya.

China mengirimkan epidemiolog, pakar perawatan darurat, dan lebih dari 100 personel petugas tes Covid-19 dan mobil tes Covid-19 ke Hong Kong. Pihak berwenang mengatakan butuh waktu tiga bulan untuk menstabilkan situasi saat ini.

Pemerintah akan menggunakan perumahan, hotel, dan venue olahraga dalam ruangan untuk menambah 20 ribu unit isolasi bagi masyarakat yang positif Covid-19 tapi hanya memiliki gejala ringan atau tanpa gejala sama sekali. Pemilihan pemimpin kota berikutnya hanya awalnya dijadwalkan Maret ditunda hingga Mei. Hal ini menambah ketidakpastian mengenai pengaruh Beijing di bekas koloni Inggris itu.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA