Sunday, 7 Rajab 1444 / 29 January 2023

Pengrajin Tahu di Bogor Stop Produksi Tahu Malam Ini

Ahad 20 Feb 2022 16:19 WIB

Rep: Shabrina Zakaria/ Red: Dwi Murdaningsih

Aktivitas pegawai yang tengah memproduksi tahu. ilustrasi

Aktivitas pegawai yang tengah memproduksi tahu. ilustrasi

Foto: Republika/M Fauzi Ridwan
Pengrajin tahu akan mulai produksi lagi pada Rabu (23/2/2022).

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR -- Buntut dari tingginya harga kacang kedelai, para pengrajin tahu dan tempe se-Bogor akan mogok produksi tahu mulai Ahad (20/2/2022) malam ini hingga Selasa (22/2/2022) malam. Seiring dengan hal tersebut, perdagangan tahu juga akan mogok mulai Senin (21/2/2022) hingga Rabu (23/2/2022).

“Mulai untuk produksi (tahu) malam ini sudah tidak produksi, karena untuk penjualan besok. Pasti (mogok produksi),” kata Sekjen Sedulur Pengrajin Tahu Indonesia (SPTI), Musodik, melalui telepon selulernya, Ahad (20/2/2022).

Baca Juga

Sodik menjelaskan, aksi mogok massal tersebut tertuang dalam surat edaran Puskopti DKI Jakarta, yang ditandatangani oleh sejumlah organisasi pengrajin tahu dan tempe se-Jabodetabek. Dalam surat tersebut, tertulis jika mogok produksi dan mogok dagang massal akan berjalan mulai Ahad (20/2/2022) malam hingga Rabu (23/2/2022) pagi. Lalu pada Rabu (23/2/2022) malam produksi tahu akan mulai kembali untuk dagang pada Kamis (24/2) pagi.

Sodik mengatakan, mogok massal produksi tahu akan diikuti oleh sekitar 100 pengrajin tahu se-Bogor. Dimana 30 di antaranya tergabung dalam SPTI.

Saat ini, harga kacang kedelai yang merupakan bahan baku tahu mencapai angka Rp 11.300 per kilogram. Pada awal 2021 harga kacang kedelai berada di angka Rp 9.500 kilogram. Bahkan, kata Sodik, harga tersebut sudah meningkat dari harga awal Rp 7.000 per kilogram.

Sodik menegaskan, aksi mogok dan dagang massal tersebut bertujuan untuk menurunkan harga kedelai yang melambung tinggi. “Tujuan kedua agar dikembalikan tata niaga kedelai ke pemerintah. Karena sejak dipegang swasta seolah-olah kita dipermainkan harga kedelai tersebut,” kata dia.

Di samping itu, ia menjelaskan, selisih harga Rp 1.000 per kilogram pada kedelai cukup memberatkan para pengrajin atau produsen. Sebagai contoh, pada produsen besar dengan jumlah produksi 1 hingga 1,5 ton per hari, perbedaan harga kedelai dari Rp 9.500 ke Rp 11.300 membuat para produsen harus merogoh kocek lebih besar. Dengan kisaran Rp 3 juta setiap harinya.

Bahkan, selama setahun belakangan, pihaknya telah menaikkan harga tahu sebanyak tiga kali karena adanya naik turun harga kedelai.“Memang betul untuk bahasa untung atau tidak, saat ini, mau kecil atau besar, hampir tidak ada. Yang kalau tidak nombok ya pas pasan,” imbuhnya.

Dikonfirmasi terpisah, salah seorang pengrajin tahu di Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor bernama Ryani Fathira (25 tahun) membenarkan jika pabrik tahu miliknya ikut aksi mogok massal. Mulai malam ini, pabrik tahunya tidak produksi hingga Selasa (22/2/2022) malam. 

Oleh karena itu, sebanyak 22 karyawannya untuk tiga hari ini tidak bekerja. Namun ia memanfaatkan waktu mogok produksi massal ini untuk melakukan pemeriksaan pada mesin pembuat tahu di pabriknya.

“Iya, ni hari saya nggak bikin tahu. Jadi besok di pasar nggak ada tahu,” tuturnya.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA