Sabtu 19 Feb 2022 06:35 WIB

Separatis Pro-Rusia Evakuasi Warga di Wilayah Ukraina Timur

Pemimpin separatis di Donetsk Denis Pushilin menuduh Ukraina bersiap untuk menyerang

Rep: Dwina Agustin/ Red: Esthi Maharani
Warga menunjukkan paspor Rusia mereka di Donetsk, Ukraina, 27 Juni 2020.
Foto: AP Photo/Alexei Alexandrov
Warga menunjukkan paspor Rusia mereka di Donetsk, Ukraina, 27 Juni 2020.

REPUBLIKA.CO.ID, KIEV -- Separatis yang didukung Rusia meminta warga sipil masuk dalam bus-bus dari daerah-daerah yang memisahkan diri di Ukraina timur pada Jumat (18/2/2022). Perubahan mengejutkan  dalam konflik yang ditakuti Barat adalah bagian dari rencana Moskow untuk membuat dalih untuk menyerang tetangganya.

Sirene peringatan meraung di Donetsk dan Luhansk, dua wilayah Ukraina yang memproklamirkan merdeka. Pengumuman menyatakan evakuasi ratusan ribu orang ke Rusia, dengan perempuan, anak-anak, dan orang tua menjadi yang pertama dalam evakuasi.

Tanpa memberikan bukti, pemimpin separatis di Donetsk Denis Pushilin menuduh Ukraina bersiap untuk menyerang kedua wilayah segera. Kiev menyangkal klaim tersebut.

"Tidak ada perintah untuk membebaskan wilayah kami dengan paksa," kata pejabat tinggi keamanan Ukraina, Oleksiy Danilov.

Beberapa jam setelah pengumuman evakuasi, sebuah jip meledak di luar gedung pemerintah pemberontak di kota Donetsk, ibu kota wilayah dengan nama yang sama. Wartawan //Reuters// melihat kendaraan itu dikelilingi pecahan peluru, sebuah roda terlempar akibat ledakan. Media Rusia mengatakan itu milik seorang pejabat separatis.

Sebagian besar dari beberapa juta warga sipil di dua daerah yang dikuasai pemberontak adalah penutur bahasa Rusia. Banyak juga sudah diberikan kewarganegaraan oleh Moskow.

Dalam beberapa jam setelah pengumuman, keluarga berkumpul untuk naik bus di titik evakuasi di Donetsk. Pihak berwenang mengatakan 700.000 orang akan pergi.

Irina Lysanova baru saja kembali dari perjalanan ke Rusia. Dia mengatakan

sedang berkemas untuk kembali dengan ibunya yang sudah pensiun. "Mama adalah seorang yang panik. Ayah menyuruh kita pergi," ujar perempuan berusia 22 tahun itu.

Ayah Lysanova, Konstantin, tidak ikut. "Ini adalah tanah air saya dan tanah ini milik kita. Saya akan tinggal dan memadamkan api," katanya.

Tapi, tidak ada tanda-tanda kepanikan pada Jumat malam di Donetsk. "Saya pikir semuanya akan berakhir dalam beberapa hari," kata seorang pria bernama Ilya mengantre untuk menarik uang tunai dari ATM.

Evakuasi dimulai setelah zona konflik Ukraina timur yang memanas melihat sumber-sumber yang digambarkan sebagai pemboman artileri paling intens selama bertahun-tahun pada Jumat. Pemerintah Ukraina dan para separatis saling menyalahkan.

Negara-negara Barat menyatakan penembakan itu dimulai pada Kamis (17/2/2022) dan meningkat pada hari kedua. Peristiwa itu diduga bisa menjadi bagian dari upaya pemerintah Presiden Rusia Vladimir Putin untuk membuat dalih untuk membenarkan serangan ke Ukraina. Rusia mengatakan tidak memiliki niat seperti itu dan menuduh Barat menyebarkan ketakutan yang tidak bertanggung jawab.

Pemberontak yang didukung Rusia merebut sebagian besar Ukraina timur pada 2014. Peristiwa itu tahun yang sama ketika Rusia mencaplok wilayah Krimea Ukraina. Kiev mengatakan bahwa lebih dari 14.000 orang telah tewas dalam konflik di timur.

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement