Kamis 17 Feb 2022 20:51 WIB

Wiku: Kasus Covid-19 Global Tunjukkan Tren Penurunan

Ada tren penurunan sekitar 60 persen kasus Covid-19 dari puncak gelombang terakhir.

Rep: Dessy Suciati Saputri/ Red: Andri Saubani
Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito menyebut kasus Covid-19 global mengalami tren penurunan.
Foto: ANTARA/Akbar Nugroho Gumay
Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito menyebut kasus Covid-19 global mengalami tren penurunan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Juru Bicara Pemerintah Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito menyampaikan, kasus Covid-19 di dunia saat ini telah menunjukkan tren penurunan sekitar 60 persen dari puncak gelombang terakhir. Sebagian besar negara di Eropa, kata Wiku, telah mengalami penurunan dari puncak kasusnya.

Beberapa negara di benua lainnya yakni Amerika Serikat, Kanada, dan Australia juga telah melewati puncak kasus dan konsisten terus menurun. Namun, salah satu negara yang justru mengalami kenaikan kasus signifikan adalah Denmark.  

Baca Juga

“Dilihat melalui kacamata global, saat ini kasus dunia telah menunjukan tren penurunan sekitar 60 persen dari puncak gelombang terakhir,” kata Wiku saat konferensi pers, pada Kamis (17/2/2022).

Sementara di Benua Asia, sebagian besar negara masih menunjukan tren kenaikan kasus, termasuk di Singapura, Malaysia, Thailand, Hong Kong, dan Indonesia. Namun terdapat juga beberapa negara lainnya yang sudah menunjukan tren penurunan kasus seperti di Jepang dan Filipina.

Wiku mengatakan, negara-negara yang telah melewati puncak kasusnya menunjukan tren kematian dan perawatan di rumah sakit yang berbeda-beda. Ia pun kemudian menjelaskan kondisi kasus di delapan negara, yakni Denmark, Swiss, Prancis, Jerman, Belgia, Italia, Inggris, dan Amerika Serikat.

Ia menyebut, kenaikan kasus di 8 negara ini merupakan rekor tertinggi melebihi puncak kasus Covid-19 sebelumnya. Kisaran kenaikan kasus pun bervariasi antar negara yakni sekitar tiga sampai sembilan kali lipat dari puncak sebelumnya. Sedangkan, Denmark menjadi negara dengan kenaikan tertinggi yaitu 13 kali lipat dari puncak terakhirnya.

Sementara pada kasus kematian di enam dari delapan negara tercatat cenderung lebih rendah dari kasus pada puncak sebelumnya. Kisaran angka kematian berada pada rentang 50-80 persen lebih rendah dibanding puncak terakhir. Namun di Denmark, angka kematian sudah setara dengan puncak sebelumnya dan di Amerika Serikat, angka kematian justru lebih tinggi 20 persen dari puncak terakhirnya.  

Kemudian pada tren perawatan rumah sakit, lima dari delapan negara menunjukan tren yang lebih rendah dibandingkan puncak terakhirnya, dengan rentang antara 30-50 persen. Namun di Prancis, tingkat perawatannya justru sudah setara dengan puncak sebelumnya. Sedangkan di Denmark dan Amerika Serikat, tren perawatan justru mencapai angka tertinggi hingga dua kali lipat dari puncak terakhirnya.

Perbedaan tren kematian dan perawatan di rumah sakit di tiap negara ini berbeda-beda. Menurut Wiku, hal ini disebabkan oleh pelaksanaan protokol kesehatan dalam menekan laju penularan, utamanya kebijakan memakai masker dan larangan berkerumun.

Wiku mengatakan, Denmark menjadi negara yang paling signifikan peningkatan kasusnya dibanding negara lainnya yaitu hingga 13 kali lipat. Angka kematiannya setara dengan puncak sebelumnya dan perawatan di rumah sakit mencapai rekor tertinggi yaitu 2 kali lipat puncak sebelumnya.

“Nyatanya, jika dilihat dari segi kebijakan dan penerapan prokes, bahkan Denmark tidak memberlakukan kebijakan wajib masker dan larangan berkerumun,” jelas Wiku.

Selain di Denmark, Amerika Serikat juga memiliki angka kematian yang lebih tinggi 20 persen dari puncak sebelumnya serta perawatan rumah sakit yang mencapai rekor tertinggi hingga dua kali lipat dari puncak sebelumnya. Namun, Amerika Serikat menerapkan kebijakan wajib masker dan larangan berkumpul lebih dari 10 orang.

“Namun, kebijakan ini tidak dapat terlaksana dengan baik terlihat dari banyaknya aksi demonstrasi dan penolakan dari masyarakat, khususnya terkait asas kebebasan,” kata dia.

Hal serupa juga terjadi di Prancis yang memiliki tren perawatan rumah sakit setara dengan puncak sebelumnya meskipun menerapkan kebijakan wajib masker dan larangan berkumpul lebih dari 100 orang. Namun, di Prancis juga terjadi banyak aksi turun ke jalan dan penolakan penggunaan masker oleh masyarakat.

Sementara, lima negara lainnya memiliki kebijakan wajib masker dan larangan berkumpul dan berhasil menekan angka kasus kematian dan perawatan di rumah sakit.

“Dengan demikian, faktor kunci keberhasilan pengendalian adalah masyarakat yang dengan kesadaran tinggi menjalankan prokes terlepas dari apa pun kebijakan yang ditetapkan,” jelas Wiku.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement