Wednesday, 19 Muharram 1444 / 17 August 2022

Kasus Covid-19 Omicron pada Anak di Kota Surabaya Didominasi Usia 5-17 Tahun

Selasa 15 Feb 2022 11:52 WIB

Rep: Dadang Kurnia/ Red: Nur Aini

Petugas menyuntikkan vaksin COVID-19 kepada seorang anak di Lapangan Thor, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (30/9/2021). Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengimbau para orang tua untuk tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan saat mendampingi anak-anaknya di rumah.

Petugas menyuntikkan vaksin COVID-19 kepada seorang anak di Lapangan Thor, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (30/9/2021). Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengimbau para orang tua untuk tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan saat mendampingi anak-anaknya di rumah.

Foto: ANTARA/Didik Suhartono
Wali Kota Surabaya mengimbau orang tua disiplin prokes Covid-19 untuk anak

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengimbau para orang tua untuk tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan saat mendampingi anak-anaknya di rumah. Sebab, kata Eri, kasus Covid-19 varian Omicron pada anak usia 5-17 tahun cukup tinggi. Artinya, kata dia, anak-anak rawan terpapar Covid-19 varian Omicron.

“Rata-rata anak yang terpapar varian Omicron didominasi usia 5-17 tahun. Kasus Omicron pada anak, sebesar 17,39 persen dari total kasus Omicron yang terkonfirmasi di Kota Surabaya,” kata Eri di Surabaya, Selasa (15/2/2022).

Baca Juga

Eri mengatakan, banyaknya anak-anak yang terpapar Omicron bisa jadi disebabkan tingkat aktivitas dan mobilitas tinggi dari para orang tua atau orang dewasa. Namun, saat di rumah mereka abai protokol kesehatan sehingga memicu munculnya klaster keluarga.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya, Nanik Sukristina mengatakan, anak-anak juga mudah terpapar saat melakukan aktivitas atau kegiatan di tempat umum atau di ruang publik. “Kegiatan di tempat umum juga mendominasi kasus Omicron pada anak-anak,” kata Nanik.

 

Untuk proses penanganannya, anak-anak yang terpapar varian Omicron juga diarahkan untuk melakukan isolasi di tempat isolasi terpusat (isoter) yang telah disediakan. Salah satunya yakni tempat Isoter di Asrama Haji Sukolilo.

“Ketika melakukan isolasi di Asrama Haji, orang tua dapat mendampingi anak-anak mereka di sana, hingga anak tersebut dinyatakan sembuh,” ujarnya.

Nanik menambahkan, rata-rata kesembuhan pada kasus konfirmasi dengan gejala asimptomatik dan ringan, membutuhkan waktu selama 3-7 hari. Namun, pasien tetap disarankan untuk melakukan isolasi mandiri selama 10-14 hari.

“Ini merupakan masa isolasi optimal meskipun hasil swab sudah negatif. Bahkan ada yang lebih cepat sesuai dengan daya tahan tubuh masing-masing pasien,” kata Nanik.

Nanik mengaku, tingkat kesembuhan pada anak-anak sangat tinggi. Sebab, sampai saat ini belum ditemukan kasus yang membutuhkan perawatan khusus pada anak-anak.

“Namun, terkait dengan pelaksanaan vaksinasi booster pada sasaran anak masih menunggu instruksi dari Kemenkes RI,” ujarnya.

Produsen Tahu di Aceh Keluhkan Mahalnya Harga Kedelai

Komisi III Gelar Kunjungan Spesifik ke Wadas, Apa Hasilnya?

Komisi II Soroti Pengalaman Calon Anggota KPU

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA