Senin 14 Feb 2022 23:20 WIB

Startup CrediBook Perkuat Segmen Grosir Digital Bagi UMKM

Aplikasi Credibook telah menjangkau segmen grosir dan UMKM di wilayah tier 3

Rep: Novita Intan/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah
Dua tahun sejak peluncurannya, startup CrediBook telah memiliki tiga layanan yang berfokus untuk mengembangkan ekosistem digital bagi pelaku UMKM yaitu aplikasi pembukuan digital, platform grosir digital CrediMart, serta aplikasi pengelolaan toko online CrediStore.
Foto: Pixabay
Dua tahun sejak peluncurannya, startup CrediBook telah memiliki tiga layanan yang berfokus untuk mengembangkan ekosistem digital bagi pelaku UMKM yaitu aplikasi pembukuan digital, platform grosir digital CrediMart, serta aplikasi pengelolaan toko online CrediStore.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-- Dua tahun sejak peluncurannya, startup CrediBook telah memiliki tiga layanan yang berfokus untuk mengembangkan ekosistem digital bagi pelaku UMKM yaitu aplikasi pembukuan digital, platform grosir digital CrediMart, serta aplikasi pengelolaan toko online CrediStore.

Sebelumnya, aplikasi pembukuan digital CrediBook telah berhasil menjangkau pelaku UMKM di wilayah tier 2 dan 3 sekitar 45 persen dari total pengguna. Sepanjang 2021, CrediBook juga aktif menyediakan kegiatan pelatihan literasi digital dan keuangan bagi delapan ribu pelaku UMKM di berbagai wilayah dan telah membantu pengguna mendapatkan KUR melalui laporan keuangan yang rapi.

Baca Juga

Selain itu, pada awal tahun ini CrediBook juga berhasil lolos program akselerasi Y Combinator (YC) angkatan Winter 2022. Hal ini turut menandai hari jadinya yang kedua, CrediBook memfokuskan  memperkuat layanannya segmen grosir yakni CrediMart. 

CEO & Co-Founder CrediBook Gabriel Frans mengungkapkan CrediMart menjadi salah satu inovasi yang mengalami pertumbuhan paling pesat. Sejak diluncurkan pada September 2021 lalu, CrediMart mencatat pertumbuhan penjualan sebesar 350 persen.

“Seiring dengan bisnis CrediBook yang semakin berkembang, skala masalah yang kami selesaikan pun semakin meningkat. Melalui CrediMart, kami menyelesaikan masalah dalam pengadaan barang sekaligus menggarap peluang sektor grosir. CrediMart memberdayakan usaha grosir konvensional dalam proses pengadaan barang tanpa mengganggu alur rantai pasok,” ucapnya.

Menurutnya CrediMart tidak memotong pemasok dan tidak memiliki aset gudang seperti perusahaan grosir lainnya. CrediMart justru meningkatkan kapasitas penjualan grosir konvensional. 

“Selain itu, target pasar CrediMart juga luas dan multi-sektor. Selama grosir menjualkan barangnya ke pedagang ritel, ini masuk segmen CrediMart, jadi bukan terbatas di warung saja. Inilah yang menjadi semangat CrediBook memfokuskan memperkuat layanan segmen grosir melalui CrediMart,” ucapnya.

Gabriel menceritakan, CrediMart berawal dari diskusi dengan para pengguna CrediBook yang sebagian besarnya adalah pengusaha toko grosir konvensional. “Toko grosir konvensional mengalami rata-rata penurunan volume penjualan hingga 20 persen selama periode pandemi,” ucapnya.

Menurutnya setelah pemantauan lanjutan, ternyata pelaku grosir masih mengandalkan berjualan secara konvensional. Selain itu, pelayanan toko grosir konvensional juga kurang nyaman, seperti antrian panjang, terbatasnya jangkauan pelanggan ritel antara 10 km sampai 15 km, dan keterbatasan metode pembayaran. 

“Pengelolaan stok barang di toko juga masih dilakukan manual. Ini semakin meningkatkan potensi penumpukan stok dan kerugian hingga 30 persen karena kurang memiliki visibilitas terhadap arus keluar-masuknya barang,” ucapnya.

CrediMart menyediakan tiga dukungan bagi pelaku grosir. Pertama, kapasitas digital berupa aplikasi online ordering untuk memudahkan toko grosir menerima pesanan dan manajemen stok, serta toko online via CrediMart untuk membantu meningkatkan pelanggan ritel baru secara online. 

Kedua, dukungan logistik berupa CrediMart Assistant yang akan mengambil barang dari toko grosir konvensional untuk diantarkan ke peritel dalam waktu 1 x 24 jam. Ketiga, fleksibilitas pembayaran melalui metode tempo untuk menjawab kebutuhan dan mendukung pengelolaan arus kas peritel, sebab toko grosir konvensional memiliki keterbatasanmodal untuk memberikan pembayaran tempo.

Baca: Putri Cantik Yusuf Mansur Siap Luncurkan Token Kripto, Cek Tanggal Presale-nya

“CrediMart turut memfasilitasi peritel dengan pembayaran digital termasuk metode tempo. Opsi ini sangat digemari karena peritel tetap bisa memenuhi kebutuhan dagang sekaligus memiliki keleluasaan untuk mengelola arus kas. Tenornya pun disesuaikan bergantung sektor. Misalnya produk kebutuhan harian tenornya bisa tujuh hari karena turnover rate-nya tinggi,” kata Gabriel.

Dampak nyata CrediMart bagi toko grosir dan ritel CrediMart kini telah beroperasi dan bekerja sama dengan toko grosir konvensional lebih dari 40 kota di Indonesia. Gabriel mengungkapkan, CrediMart juga telah memberikan dampak nyata pada pertumbuhan usaha pelaku grosir konvensional.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement