Thursday, 13 Muharram 1444 / 11 August 2022

Mantan Direktur WHO Analisis 100 Orang per Hari Wafat Akibat Covid-19

Selasa 15 Feb 2022 00:34 WIB

Rep: Rr Laeny Sulistyawati/ Red: Gita Amanda

Tren angka kematian akibat Covid-19 tiga hari terakhir sejak Jumat (11/2/2022) hingga Ahad (13/2/2022) yang melonjak 25 kali lipat dibandingkan sebelumnya, yaitu atas 100 jiwa per hari. (ilustrasi).

Tren angka kematian akibat Covid-19 tiga hari terakhir sejak Jumat (11/2/2022) hingga Ahad (13/2/2022) yang melonjak 25 kali lipat dibandingkan sebelumnya, yaitu atas 100 jiwa per hari. (ilustrasi).

Foto: ANTARA/M Risyal Hidayat
Sejak Jumat hingga Ahad tren angka kematian melonjak 25 kali lipat

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Mantan Direktur Organisasi Kesehatan Dunia PBB (WHO) Asia Tenggara dan Mantan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Tjandra Yoga Aditama memberikan analisa mengenai tren angka kematian akibat Covid-19 tiga hari terakhir sejak Jumat (11/2/2022) hingga Ahad (13/2/2022) yang melonjak 25 kali lipat dibandingkan sebelumnya, yaitu atas 100 jiwa per hari.

Padahal, sejak 1 Oktober 2021 sampai Januari lalu, jumlah yang wafat akibat Covid-19 sehari di Indonesia selalu di bawah 100, bahkan pernah empat orang pada 6 Januari 2021. "Jadi, sekarang sudah meningkat 25 kali lipat. Kita sepenuhnya menyadari bahwa satu nyawapun yang hilang, maka itu tidak dapat tergantikan oleh apapun juga," ujar Tjandra seperti dalam keterangan tertulis yang diterima Republika, Senin (14/2/2022).

Baca Juga

Ia mengakui, varian Covid-19 Omicron memang jauh lebih mudah menular daripada varian lainnya delta tetapi proporsi angka kematiannya jauh lebih rendah. Namun, ia meminta semua pihak perlu waspada. Sebab, ada beberapa negara yang angka kematian total pada saat Omicronnya ternyata lebih tinggi daripada ketika negara itu menghadapi varian delta.

"Karena jumlah kasus total memang jauh lebih tinggi pada Omicron dibandingkan Delta," ujarnya.

Ia mengutip World Economic Forum menurunkan artikel “If Omicron is less severe, why are Covid-19 deaths rising?” yang antara lain menyebutkan bahwa pada 28 Januari 2022 Australia mengalami jumlah kematian sehari paling banyak selama pandemi Covid-19 Omicron, hampir 100 orang meninggal, jauh lebih tinggi ketimbang waktu Australia dihantam varian Delta.

Amerika Serikat (AS) pada akhir Januari 2022 juga mengalami hal yang sama, dimana ada kematian rata-rata 2200 orang seharinya, lebih tinggi daripada ketika mereka dihantam Delta September tahun yang lalu, dimana angka kematian tertinggi rata-rata dalam tujuh hari adalah 2078 orang. Ia juga mengungkap data lain menunjukkan bahwa di Korea Selatan (Korsel) angka kematian tertinggi harian terjadi  pada 22 Desember 2021, yaitu 109 orang.

Sebelumnya angka kematian tertinggi di Korsel sebelum gelombang sekarang ini adalah pada 28 Desember 2020 yaitu 40 yang wafat.  Di Kanada pada 27 Januari 2022 ada 309 orang yang wafat, sementara pada gelombang sebelumnya angka tertinggi di Kanada adalah 4 Januari 2021 dengan 232 kematian.

"Sekali lagi lebih tingginya angka kematian ini bukan karena Omicron lebih mematikan, tetapi karena jumlah kasus akibat Omicron di negara-negara itu naik amat tinggi sehingga walaupun proporsi kematian lebih kecil daripada Delta tapi angka mutlaknya tetap besar. Karena kasus kita (Indonesia) juga sudah terus meningkat haruslah lebih dikendalikan," katanya.

Untuk itu, dia melanjutkan, sedikitnya ada lima hal yang dapat dilakukan. Pertama pembatasan sosial, bagi masyarakat memperketat protokol 3M / 5 M  dan menjadikan “new normal” menjadi “now normal”.

Sementara bagi pemerintah tentu menerapkan pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM), pertemuan tatap muka (PTM) terbatas atau pembelajaran jarak jauh (PJJ) bagi siswa dan bentuk pembatasan lain. Kedua upaya tes, telusur, tindaklanjut (3T), dimana bagi masyarakat yang bergejala atau ada kontak untuk segera melakukan tes, dan pemerintah untuk meningkatkan dan memudahkan test serta meningkatkan kegiatan telusur. Ketiga meningkatkan lagi cakupan vaksin, baik yang primer maupun suntikan penguat (booster). Keempat, walaupun sekarang yang dominan adalah transmisi lokal tapi bagaimanapun kemungkinan penularan dari luar negeri tetap harus dicegah.

"Kelima adalah mempersiapkan rumah sakit dengan lima aspek, ketersediaan tempat tidur dan ruang rawat, obat dan alat, sistem kerja yang aman, sistim rujukan yang cermat serta yang paling penting adalah ketersediaan dan sistem kerja yang baik bagi tenaga kesehatan," katanya. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA