Wednesday, 2 Rabiul Awwal 1444 / 28 September 2022

IAEA Kunjungi Fukushima Amati Pelepasan Air Terkontaminasi

Senin 14 Feb 2022 18:04 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Friska Yolandha

Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) melakukan pertemuan dengan pemerintah Jepang di Tokyo, Senin (14/2/2022). Pertemuan itu terkait keamanan pelepasan air yang terkontaminasi dari pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima ke laut.

Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) melakukan pertemuan dengan pemerintah Jepang di Tokyo, Senin (14/2/2022). Pertemuan itu terkait keamanan pelepasan air yang terkontaminasi dari pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima ke laut.

Foto: METI via AP
Tim beranggotakan 15 orang itu akan mengunjungi pabrik Fukushima pada Selasa.

REPUBLIKA.CO.ID, TOKYO -- Pemerintah Jepang menyambut baik tinjauan Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) tentang keamanan pelepasan air yang terkontaminasi dari pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima ke laut. Kepala Sekretaris Kabinet Hirokazu Matsuno menyatakan pada Senin (16/2/2022), mereka akan mengevaluasi keamanan serta efek radiasi pada manusia dan laut dari pembuangan air yang diolah.

"Pemerintah Jepang akan sepenuhnya bekerja sama dengan IAEA untuk memastikan bahwa upaya Jepang dievaluasi dengan benar," kata juru bicara pemerintah.

Baca Juga

Tim beranggotakan 15 orang itu akan mengunjungi pabrik Fukushima pada Selasa (15/2/2022). Mereka akan bertemu dengan pejabat pemerintah dan utilitas selama misi lima hari.

Pemerintah Jepang dan Tokyo Electric Power Company Holdings mengatakan tahun lalu akan membuang lebih dari satu juta ton air yang terkontaminasi secara bertahap setelah perawatan dan pengenceran. Tindakan ini akan mulai dilakukan sekitar musim semi 2023.

Pengumuman tersebut memicu kekhawatiran dari nelayan lokal dan keberatan dari negara tetangga Cina dan Korea Selatan. Penduduk Fukushima khawatir reputasi produk pertanian dan perikanan mereka akan semakin rusak.

Kepala tanggap kecelakaan Fukushima di Kementerian Industri Jepang Keiichi Yumoto mencatat kekhawatiran tentang keamanan proyek. Dia mengatakan sangat penting untuk mendapatkan tinjauan oleh IAEA untuk menumbuhkan pemahaman publik.

Atas kondisi itu, Jepang meminta bantuan IAEA untuk memastikan pelepasan tersebut memenuhi standar keamanan internasional dan untuk mendapatkan pemahaman dari negara lain. Direktur Kantor Koordinasi Keselamatan dan Keamanan IAEA Gustavo Caruso mengatakan, misi tersebut secara objektif, kredibel, dan berbasis sains akan membantu mengirimkan pesan transparansi dan kepercayaan bagi orang-orang di Jepang dan sekitarnya.

Tim akan meninjau rincian air, keamanan pembuangan, metode pengambilan sampel dan dampak lingkungan. Tim tersebut beranggotakan pakar dari beberapa negara, antara lain Korea Selatan dan China.

Air disimpan di sekitar 1.000 tangki di pabrik yang rusak yang menurut para pejabat perlu dipindahkan agar reaktor dapat dinonaktifkan. Tank-tank tersebut akan mencapai kapasitas 1,37 juta ton pada akhir tahun ini.

Para pejabat mengatakan semua isotop yang dipilih untuk perawatan di air yang terkontaminasi dapat dikurangi ke tingkat yang rendah kecuali tritium, yang tidak dapat dipisahkan dari air tetapi tidak berbahaya dalam jumlah kecil. Mereka mengatakan pelepasan air secara bertahap, yang diencerkan dengan air laut, ke laut selama beberapa dekade adalah aman.

Kepala Petugas TEPCO yang bertanggung jawab atas pengelolaan air olahan, Junichi Matsumoto, mengatakan bahwa utilitas tersebut memprioritaskan keselamatan dan dampaknya terhadap reputasi kawasan. "Memastikan transparansi dan objektivitas sangat penting untuk proyek ini," ujarnya.

"Kami berharap untuk lebih meningkatkan objektivitas dan transparansi proses berdasarkan tinjauan," kata Matsumoto.

Jepang dan IAEA telah sepakat untuk menyusun laporan sementara tentang tinjauan tersebut akhir tahun ini.

Gempa bumi besar dan tsunami pada 2011 menghancurkan sistem pendingin pembangkit Fukushima. Kondisi ini memicu kehancuran tiga reaktor dan pelepasan sejumlah besar radiasi. Air yang digunakan sejak kecelakaan itu untuk mendinginkan inti reaktor yang rusak akibat radioaktif telah banyak bocor. Dwina Agustin/ap/reuters

sumber : Reuters/AP
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA