Thursday, 14 Jumadil Awwal 1444 / 08 December 2022

Skenario Terburuk: Sedang Isoman, Nakes akan Diperbantukan untuk Layani Telemedisin

Senin 14 Feb 2022 05:56 WIB

Rep: Dian Fath Risalah/ Red: Reiny Dwinanda

Penampilan teaterikal yang menggambarkan perjuangan tenaga kesehatan dalam mengangani Covid-19 saat peresmian Monumen Pahlawan Covid-19, di Jalan Surapati, Kota Bandung, Sabtu (4/12/2021). Kemenkes sedang menyusun langkah antisipasi terhadap skenario terburuk yang mungkin dialami tenaga kesehatan (nakes) saat gelombang pasang kasus omicron melanda Indonesia.

Penampilan teaterikal yang menggambarkan perjuangan tenaga kesehatan dalam mengangani Covid-19 saat peresmian Monumen Pahlawan Covid-19, di Jalan Surapati, Kota Bandung, Sabtu (4/12/2021). Kemenkes sedang menyusun langkah antisipasi terhadap skenario terburuk yang mungkin dialami tenaga kesehatan (nakes) saat gelombang pasang kasus omicron melanda Indonesia.

Foto: Edi Yusuf/Republika
Kemenkes susun langkah antisipasi skenario terburuk yang mungkin dialami nakes.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sekretaris Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat, Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi mengatakan, saat ini pihaknya sedang menyusun langkah antisipasi terhadap skenario terburuk yang mungkin dialami para tenaga kesehatan (nakes) di tengah lonjakan kasus omicron. Meski begitu, sejauh ini kekurangan nakes masih dapat diatasi oleh fasilitas pelayanan kesehatan melalui pengaturan sumber daya manusia sehingga tidak berdampak pada pelayanan kesehatan.

"Strategi internal rumah sakit dapat dilakukan dengan pengaturan jadwal sif dan mobilisasi tenaga kesehatan dari unit lain untuk membantu pelayanan di layanan Covid-19," jelas Nadia dalam keterangannya, Senin (14/2/2022).

Baca Juga

Selain itu, menurut Nadia, penyediaan transportasi antar jemput dan akomodasi untuk staf juga perlu dilakukan. Rumah sakit juga direkomendasikan mengurangi atau menunda layanan non emergensi serta meningkatkan layanan telemedisin.

Tenaga kesehatan maupun dokter yang sedang melaksanakan isolasi mandiri karena tanpa gejala akan bisa diperbantukan untuk menjalankan konsultasi telemedisin pada pasien Covid-19 yang menjalankan isoman. Selanjutnya, strategi eksternal rumah sakit dilakukan salah satunya dengan mobilisasi relawan, baik dari koas maupun peserta program pendidikan dokter spesialis.

"Kami berkoordinasi dengan organisasi profesi dalam penyediaan tenaga cadangan untuk membantu, memobilisasi tenaga kesehatan rumah sakit dari wilayah kasus Covid-19 rendah ke tinggi, memobilisasi mahasiswa akhir di institusi pendidikan kesehatan terutama membantu dalam administrasi, memobilisasi tenaga kesehatan yang bertugas di non faskes atau administrasi kesehatan untuk membantu merawat pasien Covid-19 dengan dipayungi oleh regulasi izin praktik," jelas Nadia.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA