Thursday, 14 Jumadil Awwal 1444 / 08 December 2022

Kemenkes Minta Pengelola RS Antisipasi Kekurangan Tenaga Kesehatan

Senin 14 Feb 2022 04:44 WIB

Rep: Febryan. A, Bayu Adji P/ Red: Ratna Puspita

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) meminta pengelola rumah sakit melakukan sejumlah upaya guna mengatasi kondisi apabila jumlah tenaga kesehatan (nakes) berkurang. (Foto: Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kemenkes, dr Siti Nadia Tarmizi)

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) meminta pengelola rumah sakit melakukan sejumlah upaya guna mengatasi kondisi apabila jumlah tenaga kesehatan (nakes) berkurang. (Foto: Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kemenkes, dr Siti Nadia Tarmizi)

Foto: DOk BNPB
Permintaan ini lantaran makin banyak nakes yang tertular virus corona varian omicron.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Kesehatan (Kemenkes) meminta pengelola rumah sakit melakukan sejumlah upaya guna mengatasi kondisi apabila jumlah tenaga kesehatan (nakes) berkurang. Permintaan ini lantaran makin banyak nakes yang tertular virus corona varian omicron.

Juru Bicara Kemenkes Siti Nadia Tarmizi mengatakan, banyaknya tenaga kesehatan yang tertular dapat menyebabkan kontingensi hingga krisis. Kontingensi terjadi ketika fasilitas kesehatan kekurangan tenaga kesehatan tapi masih dapat diatasi dengan pengaturan sumber daya manusia (SDM) sehingga tidak berdampak pada pelayanan kesehatan.

Baca Juga

"Kondisi krisis tenaga kesehatan merupakan kondisi kekurangan tenaga kesehatan yang terjadi di fasilitas pelayanan kesehatan sehingga berdampak pada pelayanan kesehatan," kata Nadia dalam siaran persnya, Ahad (13/2/2022).

Apabila dua kondisi tersebut terjadi, kata dia, pengelola rumah sakit dapat mengatasinya dengan strategi internal dan eksternal. Nadia menjelaskan, strategi internal dapat dilakukan dengan pengaturan jadwal sif dan mobilisasi tenaga kesehatan dari unit lain untuk membantu pelayanan di layanan Covid-19. 

Selain itu, menyediakan transportasi antar jemput dan akomodasi untuk staf, mengurangi/menunda layanan non-emergensi, dan meningkatkan layanan telemedisin. Strategi internal ini juga bisa dilakukan dengan cara melibatkan dokter/tenaga kesehatan yang sedang isolasi mandiri (isoman) tanpa gejala untuk memberikan layanan telemedisin. 

Selain itu, bisa juga dengan menugaskan dokter yang bertugas di bagian manajemen untuk membantu pelayanan sebagai konsultan. "(Cara lainnya adalah) memobilisasi dokter di luar Dokter Penanggung Jawab Pelayanan (DPJP) Covid-19 untuk membantu tatalaksana pasien di bawah supervisi DPJP, serta meningkatkan kompetensi petugas dalam perawatan isolasi terutama isolasi intensif," ujarnya.

Sedangkan strategi eksternal, dia mengatakan, dapat dilakukan dengan banyak cara. Misalnya, mobilisasi relawan untuk membantu pelayanan. Relawan ini bisa berasal dari dokter yang sedang koas ataupun  Peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS).

Baca juga: Satgas Minta RS Atur Ritme Kerja Nakes Agar tidak Kelelahan 

Strategi eksternal, kata dia, juga dapat dilakukan dengan cara berkoordinasi dengan organisasi profesi dalam penyediaan tenaga cadangan untuk membantu. Lalu, memobilisasi tenaga kesehatan RS dari wilayah kasus Covid-19 rendah.

"(Strategi eksternal bisa juga dengan) memobilisasi mahasiswa akhir di institusi pendidikan kesehatan, terutama membantu dalam administrasi; dan memobilisasi tenaga kesehatan yang bertugas di non faskes/administrasi kesehatan untuk membantu merawat pasien Covid-19 (dipayungi regulasi izin praktek)," kata Nadia.

Nadia menambahkan, tenaga kesehatan yang positif Covid-19, baik asimptomatik maupun gejala ringan dengan perbaikan gejala serta hilang demam lebih dari 24 jam tanpa obat, dapat kembali bekerja minimal 5 hari setelah gejala pertama muncul ditambah 2 kali pemeriksaan NAAT dengan hasil negatif selang waktu 24 jam. Tenaga kesehatan dengan risiko kontak erat atau terpapar Covid-19 yang sudah menerima vaksin dosis ke-3 dapat kembali bekerja setelah hasil negatif pada hari ke-2 usai terpapar.

"Tenaga kesehatan yang sudah mendapat vaksin dosis ke-2 atau belum divaksin dapat kembali bekerja jika tes NAAT negatif pada hari ke 1-2 setelah terpapar dan dapat diulang pada hari ke 5-7 dan tetap bekerja dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat,” ucap Nadia.

Baca juga: Kemenkes Minta RS Disiplin Klaim Biaya Pelayanan Covid-19 

Nadia menyebut, pihak rumah sakit sebaiknya memprioritaskan tenaga kesehatan tanpa gejala untuk kembali bekerja daripada tenaga kesehatan yang bergejala ringan. Mereka bisa bekerja memonitoring pasien di ruang isolasi. "Hal tersebut harus berdasarkan persetujuan dari yang bersangkutan," ujarnya.

Nadia pun berharap agar pengelola rumah sakit dapat menerapkan dua strategi itu apabila terjadi kontingen ataupun krisis nakes. "Upaya ini kami harapkan segera dipersiapkan oleh setiap kepala dinas kesehatan provinsi/kabupaten dan direktur rumah sakit," katanya.

Terkonfirmasi positif

Salah satu daerah yang melaporkan tenaga kesehatan terpapar Covid-19, yakni Kota Tasikmalaya, Jawa Barat. Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya menyebutkan setidaknya terdapat 80 tenaga kesehatan yang terkonfirmasi positif Covid-19 sejak pertengahan Januari. 

"Sudah hampir 80 atau 90 orang nakes yang terpapar sejak pertengahan Januari. Namun, sebagian sudah sembuh, karena sudah melewati isolasi selama 14 hari," kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya, Aseh Hendra, Ahad (13/2/2022).

Baca juga: Bisakah Anak Mengalami Long Covid? Ini Penjelasan Dokter Paru 

Ia menjelaskan, banyaknya tenaga kesehatan yang terkonfirmasi positif karena menjadi kontak erat pasien Covid-19. Namun, ia mengatakan, belum ditemukan adanya klaster rumah sakit.

Ia mengatakan, para tenaga kesehatan itu harus menjalani isolasi dan tak bisa memberikan pelayanan. Meski sempat terhambat, pelayanan kesehatan tak sampai harus dihentikan karena masih ada tenaga kesehatan lain yang menggantikan. 

"Kami masih berjalan normal, tapi memang ada sedikit timpang karena kekurangan orang," ujar dia.

photo
Cara meredakan sakit tenggorokan saat kena Covid-19. - (Republika)
 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA