Kamis 10 Feb 2022 19:50 WIB

Jepang Menyetujui Penggunaan Obat Oral Covid-19 Pfizer

Obat oral Covid-19 Pfizer bernama Paxlovid dibuat dalam bentuk pil.

Rep: Puti Almas/ Red: Nora Azizah
Komite Kementerian Kesehatan Jepang menyetujui obat oral untuk mengatasi infeksi virus corona jenis baru (Covid-19) yang dibuat oleh Pfizer Inc
Foto: kantor Pfizer
Komite Kementerian Kesehatan Jepang menyetujui obat oral untuk mengatasi infeksi virus corona jenis baru (Covid-19) yang dibuat oleh Pfizer Inc

REPUBLIKA.CO.ID, TOKYO -- Komite Kementerian Kesehatan Jepang menyetujui obat oral untuk mengatasi infeksi virus corona jenis baru (Covid-19) yang dibuat oleh Pfizer Inc. Dilansir dari reuters, Kamis (10/2/2022), persetujuan akhir penggunaan obat diharapkan mulai dilakukan pada Jumat (11/2/2022). Ini diberikan di bawah langkah-langkah persetujuan darurat Jepang dalam pengendalian pandemi Covid-19.

Pfizer mengajukan permohonan persetujuan obat oral kepada Pemerintah Jepang pada Januari lalu. Obat ini bernama Paxlovid yang berbentuk pil dan diberikan segera setelah seseorang didiagnosis Covid-19, atau setidaknya dalam waktu lima hari setelah timbul gejala. 

Baca Juga

Paxlovid mengkombinasikan obat antivirus bernama nirmatrelvir dan ritonavir. Dosis penggunaannya yakni tiga pil dikonsumsi dua kali sehari selama lima hari di mulai setelah timbul gejala.

Sebelumnya, vaksin nasal atau vaksin yang diberikan lewat hidung diprediksi memberikan perlindungan dari virus yang lebih luas. Kondisi demikian jika dibandingkan dengan vaksin yang diberikan lewat suntikan.

Temuan tersebut diungkap lewat penelitian praklinis terkini yang dipimpin oleh para ilmuwan dari Universitas Yale, Amerika Serikat. Mereka menemukan bahwa vaksinasi nasal kemungkin jauh lebih efektif.

Efektivitas yang dimaksud terutama dalam menghasilkan kekebalan terhadap sejumlah virus pernapasan. Vaksinasi melalui semprotan hidung yang dapat dihirup juga lebih mudah untuk diberikan.

"Pertahanan kekebalan terbaik terjadi di pintu gerbang, menjaga dari virus yang mencoba masuk," ujar penulis senior studi, Akiko Iwasaki, dikutip dari laman New Atlas.

Gagasan di balik vaksin nasal yakni vaksin dapat melatih selaput lendir di hidung secara langsung untuk menargetkan patogen udara tertentu. Dengan begitu, respons imun dapat bekerja segera setelah virus memasuki tubuh.

Secara menjanjikan, studi mengungkapkan vaksin nasal menginduksi tanggapan IgA yang efektif. Selain itu, vaksin nasal dapat meningkatkan kekebalan luas terhadap lebih dari sekadar strain virus tunggal.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement