Sunday, 4 Zulhijjah 1443 / 03 July 2022

Nilai Gotong Royong Jadi Jembatan Hadapi Bonus Demografi

Kamis 10 Feb 2022 17:37 WIB

Rep: Ronggo Astungkoro/ Red: Nashih Nashrullah

Ilustrasi bonus demografi (ilustrasi). Indonesa akan menghadapi bonud demografi pada 2030

Ilustrasi bonus demografi (ilustrasi). Indonesa akan menghadapi bonud demografi pada 2030

Foto: ANTARA FOTO
Indonesa akan menghadapi bonud demografi pada 2030

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Kementerian Pendidikan, Kebudayaan Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) menekankan pentingnya nilai-nilai gotong royong untuk menjadi jembatan dalam menghadapi bonus demografi. 

Dengan jembatan itu, bonus demografi yang ada dapat berdaya guna dan menjelma menjadi kekuatan besar berupa sumber daya manusia (SDM) unggul di masa depan. 

Baca Juga

“Kita harus memastikan, bonus demografi itu harus menjelma menjadi kekuatan besar kita di masa depan yaitu SDM yang unggul, kompeten, serta sesuai dengan perubahan yang ada di dunia nyata ini, sehingga ketika sisi permintaan sudah memunculkan sinyal seperti ini maka di sisi pasokan kita harus benar-benar ada ketautsesuaian,” ujar Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi Kemendikbudristek, Wikan Sakarinto, dalam siaran pers, Kamis (10/2/2022). 

Hal itu dia sampaikan dalam gelar wicara "Kick Off G20 on Education and Culture" di Jakarta. Ada tiga gelar wicara pada acara tersebut yang bertajuk sesuai agenda prioritas yang akan diperjuangkan Kemendikbudristek pada perhelatan G20. Salah satunya bertajuk “Solidarity and Partnerships, and the Future of Work Post Covid-19”. 

Wikan menyebutkan beberapa dampak yang disebabkan pandemi Covid-19, khususnya bagi pendidikan vokasi, seperti siswa jarang masuk sekolah, mata pelajaran praktik menjadi terhambat, serta industri semakin melemah daya serapnya. Bahkan, di tahun pertama pandemi, kata dia, terjadi lonjakan pengangguran. 

Di sisi lain, Wikan menerantkan, pandemi telah memaksa semua pihak untuk bergotong royong untuk beradaptasi, bertahan, dan pulih dari kondisi yang tidak menguntungkan. 

Dia mengatakan, filosofi gotong royong itu menjadi lebih bulat ketika semuanya bersama-sama mengalami kesusahan dan tantangan yang ada. 

"Dalam diri kita muncul kebersamaan, sehingga gotong royong dalam bentuk link and match yang kami catat selama pandemi ini justru mengalami peningkatan,” kata Wikan. 

Wikan menambahkan, di satu sisi Covid-19 menciptakan pelambatan ekonomi. Namun demikian, kebersamaan antarpemangku kepentingan dirasakan semakin kuat, misalnya melalui Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). 

 

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA