Selasa 08 Feb 2022 17:25 WIB

WWF: Polusi Plastik Pengaruhi 88% Spesies Laut

WWF sebut zat turunan bahan bakar fosil "telah mencapai setiap bagian lautan".

Rep: deutsche welle/ Red: deutsche welle
Sebnem Coskun/AA/picture alliance
Sebnem Coskun/AA/picture alliance

Organisasi lingkungan terbesar di dunia, World Wide Fund for Nature (WWF), pada hari Selasa (08/02) mengatakan, sampah plastik telah mengotori semua lautan dan menyerukan upaya mendesak untuk membuat perjanjian internasional tentang plastik.

Menurut sebuah laporan baru yang diterbitkan oleh WWF, 88% spesies laut telah terpengaruh oleh kontaminasi plastik yang parah di lautan. Laporan tersebut menambahkan, banyak organisme laut telah menelan plastik ini, termasuk hewan laut yang biasa dikonsumsi manusia.

Apa inti laporan itu?

Laporan yang disusun bekerja sama dengan Institut Alfred Wegener di Jerman itu, mengumpulkan data dari 2.590 studi ilmiah, yang mengukur dampak plastik dan mikroplastik di laut. Dikaporkan, "pulau plastik" raksasa, yang terdiri dari potongan-potongan plastik yang mengapung, telah ditemukan di samudra Atlantik dan Pasifik.

Laporan tersebut menemukan, zat turunan bahan bakar fosil "telah mencapai setiap bagian lautan, dari permukaan laut hingga dasar laut dalam, dari kutub hingga garis pantai pulau-pulau terpencil, dan dapat dideteksi di dalam organisme plankton terkecil hingga mamalia laut terbesar, paus."

WWF telah mengindikasikan, setidaknya 2.144 spesies menderita akibat polusi plastik di habitatnya. Sejumlah spesies akhirnya juga menelan sampah plastik tersebut, dengan rincian kasus konsumsi sampah plastik pada 90% burung laut dan 52% penyu laut, menurut laporan itu.

WWF memperingatkan, kandungan mikroplastik telah ditemukan pada spesies kerang biru dan tiram, dan seperlima sarden kalengan mengandung partikel ini.

Laporan WWF tersebut juga memperkirakan, produksi plastik akan berlipat ganda pada tahun 2040, dan berpotensi menyebabkan peningkatan empat kali lipat sampah plastik di lautan serta akan mencemari area dengan luas dua setengah kali ukuran Greenland.

WWF menyebutkan beberapa wilayah laut yang paling terancam adalah Laut Kuning, Laut Cina Timur, dan Mediterania. Area-area ini sudah mencapai batas jenuh volume mikroplastik yang bisa diserap secara alamiah.

Apa penyebab utama pencemaran?

Pakar WWF, Eirik Lindebjerg mengatakan, penangkapan ikan merupakan penyumbang utama pencemaran laut dengan faktor utamanya adalah prevalensi plastik sekali pakai.

"Karena plastik semakin murah, produsen memproduksinya dalam jumlah besar, dan ini memungkinkan mereka untuk mengembangkan produk sekali pakai yang kemudian menjadi sampah," kata Lindebjerg.

Menurut Lindebjerg, beberapa tempat menghadapi risiko "runtuhnya ekosistem" yang memengaruhi seluruh rantai makanan di laut. Dia menyerukan penurunan besar-besaran polusi plastik, dan menegaskan volume polusi plastik yang dapat diserap ekosistem laut juga terbatas.

"Kita perlu memperlakukannya sebagai sistem yang tidak menyerap plastik, dan itulah mengapa kita harus menuju nol emisi, nol polusi secepat mungkin."

WWF menyerukan pembicaraan lanjutan yang bertujuan untuk mencapai kesepakatan internasional tentang plastik pada pertemuan lingkungan PBB, yang akan digelar mulai 28 Februari hingga 2 Maret mendatang di ibu kota Kenya, Nairobi. Sebuah perjanjian sangat dibutuhkan untuk menetapkan standar produksi global dan "upaya daur ulang" yang nyata, tegas WWF.

ha/as (AFP, Efe, dpa)

Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan deutsche welle. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab deutsche welle.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement