Friday, 21 Muharram 1444 / 19 August 2022

Skandal Pesta PM Inggris Jadi Keuntungan Seniman Satir

Senin 31 Jan 2022 22:10 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Esthi Maharani

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson meninggalkan 10 Downing Street

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson meninggalkan 10 Downing Street

Foto: AP/Matt Dunham
Skandal pesta PM Inggris justru menjadi ladang pemasukan bagi seniman satir.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Perdana Menteri Inggris Boris Johnson menghadapi skandal pesta yang digelar di kediamannya, di tengah pembatasan sosial untuk mengekang Covid-19. Skandal ini justru menjadi ladang pemasukan bagi seniman satir.

Sebuah kartun satir di surat kabar Inggris, membuat karikatur yang menggambarkan Johnson sebagai penguasa Romawi yang dikhianati Julius Caesar, dan ditikam dari belakang dengan pembuka botol. Kartunis politik untuk surat kabar The Guardian, Martin Rowson, mengatakan, ejekan adalah salah satu trade-off dalam masyarakat demokratis antara pemerintah dan yang diperintah.

Baca Juga

“Mereka memiliki kekuatan dan kami memiliki hak untuk menertawakan mereka," ujar Rowson.

Rowson mengatakan, persona kartun Johnson sengaja dibuat.  Dia adalah sosok terbaru dalam barisan panjang politisi yang telah "menjadi karikatur" untuk menjaga diri mereka di mata publik.

“Meskipun kami mengejek mereka pada saat yang sama, itu adalah harga yang pantas dibayar untuk mereka,” kata Rowson.

Salah satu kartun terbaru Rowson menggambarkan Ratu Elizabeth II mengenakan masker gas untuk melindungi dirinya dari bau busuk Johnson. Kemudian pemerintahan Konservatif menggelepar di rawa di belakangnya. Itu terinspirasi oleh foto-foto raja yang duduk sendirian mengenakan topeng wajah hitam di pemakaman suaminya Pangeran Philip pada April 2021. Rowson mengatakan, humor politik memiliki tujuan penting.

“Kami menggunakan tawa sebagai alat bertahan hidup. Jika tidak, kami akan menjadi gila dengan teror eksistensialis," kata Rowson.

Inggris memiliki tradisi satir politik yang panjang dan membanggakan.  Pada abad ke-18, kartunis James Gillray mencerca politisi dan bangsawan Inggris dengan ketidaksopanan bahkan kekejaman. Hal ini mengejutkan Eropa. Acara TV Inggris seperti "Spitting Image," meneruskan tradisi di akhir abad ke-20.

Ketika Johnson menjadi perdana menteri pada 2019, beberapa kartunis khawatir dia akan sulit disindir karena sudah menjadi sosok yang bersinar. Koordinator pembelajaran di Museum Kartun di London,  Steve Marchant, mengatakan, Johnson adalah hadiah untuk para humoris.

"Yang Anda butuhkan untuk menggambar adalah telur dengan beberapa jerami di atasnya dan Anda sudah mendapatkan Boris bahkan sebelum Anda mencoba menggambar wajah. Dia sangat rawan kesalahan. Setiap minggu sesuatu terjadi dengan Boris. Tidak ada kartunis yang akan mati miskin berkat kejenakaan Boris Johnson," ujar Marchant.

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA