Saturday, 22 Muharram 1444 / 20 August 2022

AS Serukan DK PBB Gelar Sesi Terbuka Bahas Ketegangan Ukraina

Jumat 28 Jan 2022 16:57 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Esthi Maharani

Anggota Pasukan Pertahanan Teritorial Ukraina, unit militer sukarelawan Angkatan Bersenjata, berlatih di taman kota di Kyiv, Ukraina, 22 Januari 2022.

Anggota Pasukan Pertahanan Teritorial Ukraina, unit militer sukarelawan Angkatan Bersenjata, berlatih di taman kota di Kyiv, Ukraina, 22 Januari 2022.

Foto: AP/Efrem Lukatsky
Menurut AS, Rusia masih berada pada posisi bersiap menyerang Kiev.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON – Amerika Serikat (AS) menyerukan Dewan Keamanan PBB menggelar sesi terbuka untuk membahas ketegangan di perbatasan Ukraina. Menurut Washington, Rusia masih berada pada posisi bersiap menyerang Kiev.

Duta Besar AS untuk PBB Linda Thomas-Greenfield mengatakan, Rusia masih memperlihatkan perilaku mengancam Ukraina. Hal itu tampak pada penumpukan pasukan Rusia di perbatasan Ukraina dan Belarusia.

Baca Juga

"Anggota Dewan Keamanan harus benar-benar memeriksa fakta dan mempertimbangkan apa yang dipertaruhkan untuk Ukraina, untuk Rusia, untuk Eropa, dan untuk kewajiban inti serta prinsip-prinsip tatanan internasional jika Rusia menginvasi Ukraina lebih lanjut," kata Thomas-Greenfield pada Kamis (27/1), dikutip Anadolu Agency.

Menurutnya, saat ini bukanlah momen untuk menunggu dan mengamati. “Perhatian penuh Dewan (Keamanan) diperlukan sekarang. Kami menantikan diskusi langsung dan terarah pada Senin (pekan depan),” ujarnya.

Pada Rabu (26/1/2022) lalu, AS telah merespons tuntutan Rusia perihal jaminan keamanan. Washington menolak permintaan Moskow tentang jaminan Ukraina tidak akan bergabung dengan Organisasi Pertahanan Atlantik Utara (NATO). AS menilai apa yang diminta Rusia bisa secara efektif merusak “kebijakan pintu terbuka” NATO yang sudah lama ada.

“Kami akan menjunjung tinggi prinsip pintu terbuka NATO. Pintu NATO terbuka, tetap terbuka, dan itu adalah komitmen kami,” kata Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken dalam sebuah pernyataan.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengatakan respons AS tak memiliki reaksi positif terhadap permintaan utama negaranya, yakni agar NATO tak memperluas cakupannya ke timur. “Masalah utamanya adalah ekspansi lebih lanjut NATO ke timur dan penyebaran senjata serang yang dapat mengancam wilayah Federasi Rusia,” ujar Lavrov.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA