Monday, 5 Zulhijjah 1443 / 04 July 2022

Anak 6,5 Tahun Meninggal Seusai Vaksinasi, Dinkes Cianjur Ungkap Hasil Audit Komnas KIPI

Jumat 28 Jan 2022 03:17 WIB

Red: Andri Saubani

Vaksin Covid-19 (ilustrasi)

Vaksin Covid-19 (ilustrasi)

Foto: Wikimedia
Komnas KIPI sudah melakukan audit terhadap siswa berinisial ZL.

REPUBLIKA.CO.ID, CIANJUR -- Dinas Kesehatan Cianjur, Jawa Barat, menyebutkan siswa pendidikan anak usia dini (PAUD) di Kecamatan Pasirkuda yang meninggal dunia, bukan karena vaksinasi. Namun, memiliki riwayat penyakit infeksi otak, setelah Komisi Nasional Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (Komnas KIPI) melakukan audit.

"Kesimpulan sementara dari hasil audit Komnas KIPI, siswa tersebut meninggal bukan karena vaksinasi, namun adanya infeksi di otak. Namun hasil tersebut, baru kami dapatkan secara lisan dari Komnas KIPI," kata Sekretaris Dinkes Cianjur, dr Yusman Faisal saat dihubungi di Cianjur, Kamis (27/1/2022).

Baca Juga

Yusman menuturkan, Komnas KIPI sudah melakukan audit terhadap siswa tersebut, beberapa hari lalu untuk mencari tahu penyebab kematiannya. Sehingga, laporan secara tertulis akan didapatkan pihaknya beberapa hari ke depan.

"Jadi orang tua jangan takut kalau anaknya mendapatkan vaksinasi, selama anak dalam kondisi sehat dan tidak memiliki penyakit akut. Selama ini, kecil kemungkinan terjadi KIPI terhadap penerima vaksin," katanya.

Sebelumnya Dinas Kesehatan Cianjur, masih menunggu hasil investigasi dan pendalaman dari Komda KIPI Jabar dan Komnas KIPI, terkait meninggal siswa PAUD di Cianjur, setelah mendapatkan vaksinasi atas nama ZL (6,5 tahun) beberapa hari yang lalu. Kepala Dinkes Cianjur, Irvan Nur Fauzy di Cianjur, mengatakan Komda KIPI Jabar, sudah melakukan investigasi terkait meninggalnya siswa PAUD di Kecamatan Pasirkuda, namun pihaknya belum mendapat laporan.

"Komda KIPI Jabar sudah melakukan investigasi kasus meninggalnya siswa tersebut, kami belum menerima keterangan resmi atau perkembangan dari hasil investigasi yang dilakukan seperti autopsi verbal dari pihak yang diduga terkait dalam kasus tersebut, termasuk keluarganya," kata Irvan.

Ia menjelaskan, untuk pelaksanaan tindakan awal yang dilakukan terhadap anak berbeda dengan orang dewasa sebelum mendapatkan vaksinasi. Namun, pihaknya baru mengetahui siswa tersebut memiliki riwayat penyakit, sedangkan terkait riwayat penyakit lainnya menunggu hasil investigasi.

 

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA