Wednesday, 2 Rabiul Awwal 1444 / 28 September 2022

Cerita Petani Bawang Putih: Produktivitas Stagnan, Biaya Produksi Tinggi

Kamis 27 Jan 2022 19:41 WIB

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Warga menjemur bawang putih lokal varietas Lumbu Kuning di kawasan lereng gunung Sumbing desa Legoksari, Temanggung, Jawa Tengah. Tingkat produksi bawang putih lokal diakui sejumlah petani cenderung stagnan dari tahun ke tahun. Banyak tantangan yang dihadapi, salah satunya biaya produksi yang mahal. Namun, adanya kemitraan dengan para importir membantu petani mendapatkan sarana produksi.

Warga menjemur bawang putih lokal varietas Lumbu Kuning di kawasan lereng gunung Sumbing desa Legoksari, Temanggung, Jawa Tengah. Tingkat produksi bawang putih lokal diakui sejumlah petani cenderung stagnan dari tahun ke tahun. Banyak tantangan yang dihadapi, salah satunya biaya produksi yang mahal. Namun, adanya kemitraan dengan para importir membantu petani mendapatkan sarana produksi.

Foto: Antara/Anis Efizudin
Program kemitraan meningkatkan gairah petani menanam bawang putih

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tingkat produksi bawang putih lokal diakui sejumlah petani cenderung stagnan dari tahun ke tahun. Banyak tantangan yang dihadapi, salah satunya biaya produksi yang mahal. Namun, adanya kemitraan dengan para importir membantu petani mendapatkan sarana produksi.

Walsidi, salah satu petani bawang putih di Desa Wonotirto, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, mengatakan, prospek usaha bawang putih bagi masyarakat setempat cukup bagus. Sebab, Temanggung sejak lama memang telah menjadi salah satu sentra bawang putih nasional.

Baca Juga

Namun, Walsidi menuturkan, minat dalam usaha bawang putih oleh masyarakat Temanggung cenderung stagnan dari tahun-tahun sebelumnya.

"Jadi, ya tidak naik, juga tidak turun. Standar saja. Kawasan pertanaman bawang putih tempat saya juga itu sudah dari turun temurun, warisan keluarga," katanya saat dihubungi Republika.co.id, Kamis (27/1/2022).

Ia bercerita, saat ini rata-rata produktivitas sekitar 7 hingga 7,5 ton per hektare (ha). Adapun hasil produksinya dihargai Rp 10 ribu per kilogram (kg) dalam kondisi basah atau Rp 20 ribu-Rp 25 ribu per kg dalam kering askip.

Bibit bawang putih itu didapatkan dari importir bawang putih yang melaksanakan kewajiban tanam bawang putih dengan kemitraan bersama petani. Adapun hasil panennya, khusus di Temanggung importir harus menyerap minimal 30 persen dari hasil panen petani yang bermitra.

Walsidi mengatakan, adanya program kemitraan itu cukup meningkatkan gairah petani dalam menanam bawang putih. Sebab, seluruh kebutuhan dari mulai persiapan tanam hingga panen dan pasca panen difasilitasi oleh para importir.

Petani lainnya, Dahri mengatakan hal senada. Tingkat produksi yang ia catat stagnan berkisar pada 6,5 ton-7 ton per ha. Dahri mengungkapkan, salah satu tantangan besar dalam budidaya bawang putih yakni biaya modal produksi yang sangat tinggi.

"Kita berharap agar nanti harga-harga kebutuhan untuk budidaya bawang putih bisa lebih stabil karena biaya itu mahal," ujarnya.

Di satu sisi, ia juga berharap agar importir bawang putih terus meningkatkan dukungannya kepada para petani agar semangat melakukan penanaman. "Petani tanpa program kemitraan ini mungkin tidak mampu," katanya.

Ketua Perkumpulan Pelaku Usaha Bawang Putih dan Sayuran Umbi Indonesia (Pusbarindo), Valentino, mengatakan, dari hasil pengamantan Pusbarindo, rata-rata biaya produksi bawang putih di seluruh sentra berkisar Rp 110-Rp 125 juta per hektare (ha).

Di tengah biaya produksi yang tinggi, rata-rata produktivitas bawang putih sangat rendah karena hanya 6,5 ton-7,5 ton per ha. Jauh lebih rendah dari produktivitas di China yang mencapai 38-50 ton per 1,2 ha. Karena itu, kata Valentino, kunci untuk meningkatkan keuntungan hanya dengan penambahan produktivitas.

Saat ini, sentra yang paling tinggi menghasilkan bawang putih yakni Kabupaten Karang Anyar, Jawa Tengah yang pernah mencapai 17,6 ton per ha. Untuk menghasilkan produktivitas tinggi itu, juga mengeluarkan biaya produksi yang sama.

Kuncinya, kata Valentino, petani harus dapat menanam bawang putih saat musim kemarau karena sifat tanamnnya yang menyerap banyak sinar matahari dan waktu masa tanam dapat lebih dari rata-rata empat bulan sehingga umbi lebih besar.

"Jadi yang harus disadari oleh petani harus tanam di musim kemarau karena itu hasilnya akan beda sekali," ujarnya.

Hanya saja, hal itu bukan perkara mudah. Sebab, di sejumlah daerah sentra akan mengalami kesulitan air saat memasuki musim kemarau. Sementara, para petani bawang putih yang merupakan masyarakat kecil terdesak kebutuhan ekonomi sehingga mau tak pola tanam tak selalu mengikuti situasi musim.

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA