Friday, 2 Zulhijjah 1443 / 01 July 2022

Perjuangan China Pertahankan Kebijakan Nol Covid

Kamis 27 Jan 2022 14:16 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Friska Yolandha

Seorang warga yang mengenakan masker untuk membantu melindungi diri dari COVID-19 berjalan di sepanjang jalan sempit di Wuhan di Provinsi Hubei, China tengah, Ahad, 23 Januari 2022. Kebijakan tanpa toleransi terhadap kasus Covid-19 China tetap dipertahankan pemerintah meski bertentangan dengan seluruh dunia.

Seorang warga yang mengenakan masker untuk membantu melindungi diri dari COVID-19 berjalan di sepanjang jalan sempit di Wuhan di Provinsi Hubei, China tengah, Ahad, 23 Januari 2022. Kebijakan tanpa toleransi terhadap kasus Covid-19 China tetap dipertahankan pemerintah meski bertentangan dengan seluruh dunia.

Foto: AP/AP
Sejumlah ahli kesehatan menilai pendekatan nol covid China tidak berkelanjutan.

REPUBLIKA.CO.ID, SHANGHAI -- Kebijakan tanpa toleransi terhadap kasus Covid-19 China tetap dipertahankan pemerintah meski bertentangan dengan seluruh dunia. Strategi nol covid China pun mengalami tantangan besar yang menimbulkan kekhawatiran tentang kemampuan sistem perawatan hingga adaptasi dengan varian baru dari SARS-CoV-2.

Tahun lalu, pakar medis China meyakini bahwa tingkat vaksinasi yang lebih tinggi mampu membuat China melonggarkan aturan ketat. Namun demikian, munculnya varian omicron melunturkan harapan itu.

Baca Juga

Sejumlah ahli kesehatan lokal dan global menilai pendekatan nol covid China tidak berkelanjutan. Negara itu pun tidak punya pilihan selain terus mengingat bahwa sistem kesehatannya memang kurang berkembang.

Beberapa analis juga menilai bahwa ekonomi China bisa muncul lebih kuat, namun varian omicron yang menular lebih cepat dapat menurunkan ekspektasi itu. "Untuk negara besar dengan populasi 1,4 miliar, harus dikatakan bahwa efektivitas biaya pencegahan dan pengendalian negara sangat tinggi," kata kepala kelompok ahli pencegahan epidemi di Komisi Kesehatan Nasional China, Liang Wannian.

Direktur pelaksana Dana Moneter Internasional, Kristalina Georgieva meminta China untuk menilai kembali pendekatannya terhadap kebijakan covidnya. Dia mengatakan hal itu sekarang telah menjadi beban bagi ekonomi China dan global.

China juga khawatir soal dana dari penurunan kebijakan kesehatannya, terutama dengan sistem perawatan kesehatan yang tertinggal dalam perkembangannya yang lebih luas. "Dengan populasi yang besar dan kepadatan yang tinggi, pemerintah sudah sepatutnya mengkhawatirkan dampak penyebaran virus tersebut," kata profesor kesehatan internasional di Curtin School of Population Health di Perth, Australia, Jaya Dantas.

Ekonomi China diperkirakan akan melambat imbas gangguan pasokan terkait covid. Sementara penguncian untuk meredam wabah domestik membebani perjalanan dan konsumsi. Namun, ekonomi China tetap tangguh, dengan pertumbuhan PDB sebesar 8,1 persen tahun lalu, jauh melebihi ekspektasi.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA