Tuesday, 16 Syawwal 1443 / 17 May 2022

Inggris Pertimbangkan Kerahkan Pasukan ke Ukraina

Kamis 27 Jan 2022 09:44 WIB

Red: Teguh Firmansyah

Seorang tentara Ukraina menyesuaikan senjatanya di dekat rumah yang hancur di garis pemisah dari pemberontak pro-Rusia, Donetskregion, Ukraina, Sabtu, 8 Januari 2022.

Seorang tentara Ukraina menyesuaikan senjatanya di dekat rumah yang hancur di garis pemisah dari pemberontak pro-Rusia, Donetskregion, Ukraina, Sabtu, 8 Januari 2022.

Foto: AP/Andriy Dubchak
Sekitar 8.500 tentara AS juga telah disiagakan untuk kemungkinan pengerahan pasukan.

REPUBLIKA.CO.ID, BENGALURU -- Inggris sedang mempertimbangkan untuk mengerahkan ratusan tentara ke kawasan Eropa Timur dalam menghadapi kemungkinan invasi Rusia ke Ukraina. Demikian diberitakan The Telegraph yang mengutip beberapa sumber, Rabu (26/1).

Sumber-sumber pemerintah Inggris mengonfirmasi bahwa diskusi yang sangat berkembang sedang berlangsung setelah laporan muncul dari Washington bahwa Amerika Serikat, Inggris, dan beberapa negara sekutu Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) sedang membahas upaya memperkuat kehadiran militer mereka di Eropa sisi timur.

Baca Juga

"Pengumuman resmi itu diperkirakan akan disampaikan paling cepat pada Kamis tentang pengerahan baru kelompok-kelompok kecil pasukan dari negara-negara NATO," tulis laporan media itu.

Kantor berita Xinhua menyebut, Departemen Pertahanan Amerika Serikat (AS) pada Senin (24/1) mengumumkan bahwa sekitar 8.500 tentara AS telah disiagakan untuk kemungkinan pengerahan seiring meningkatnya ketegangan di perbatasan Rusia-Ukraina. Namun, sejauh ini belum ada keputusan tentang pengerahan resmi pasukan AS yang disiagakan itu.

Juru bicara Departemen Pertahanan AS John Kirby mengatakan dalam sebuah konferensi pers bahwa penempatan pasukan AS dalam keadaan siaga tingkat tinggi adalah demi memastikan AS akan siap merespons sebuah kemungkinan keputusan NATO untuk pengerahan 40 ribu tentara.

Pengerahan pasukan AS itu merupakan tindakan secara multinasional yang dikenal sebagai NATO Response Force (NRF) yang dapat memberi dukungan dalam waktu singkat.

Kirby mengatakan bahwa perintah untuk menyiagakan pasukan tersebut datang dari Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin atas arahan Presiden Joe Biden. Hal itu membuktikan betapa seriusnya Amerika Serikat melaksanakan komitmen untuk NATO dan komitmen pertahanan kolektif aliansi itu.

"Seluruhnya, jumlah pasukan yang ditempatkan menteri pertahanan dalam siaga tinggi mencapai sekitar 8.500 personel," ujar Kirby.

sumber : Reuters/Xinhua/Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA