Monday, 22 Syawwal 1443 / 23 May 2022

Pembangunan Ekosistem Internet of Things Belum Mulus

Kamis 27 Jan 2022 13:09 WIB

Rep: Noer Qomariah Kusumawardhani / Red: Dwi Murdaningsih

 Perangkat smart home akan membantu penghuni  dalam memantau kondisi keamanan rumah melalui CCTV, mengatur beberapa alat elektronik, smart door lock,

Perangkat smart home akan membantu penghuni dalam memantau kondisi keamanan rumah melalui CCTV, mengatur beberapa alat elektronik, smart door lock,

Foto: istimewa
Ada empat tantangan yang dihadapi oleh pengembang IoT.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Potensi pasar internet of things (IoT) di Indonesia begitu besar. Meskipun memiliki potensi yang luar biasa, bukan berarti IoT akan dengan mulus diimplementasikan secara luas di Indonesia. Potensi ekosistem atau pasar IoT di Indonesia pada 2022 mencapai 26 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau Rp 372 triliun. 

Menurut Ketua Umum Asosiasi IoT Indonesia (ASIOTI), Teguh Prasetya, terdapat sejumlah tantangan yang terjadi untuk ekosistem IoT di Indonesia. Setidaknya, ada empat tantangan yang dihadapi oleh pengembang IoT.

Baca Juga

Pertama adalah soal literasi di kalangan executive level dan masyarakat umum mengenai IoT. "Banyak yang belum mengerti mengenai IoT sehingga perlu adanya edukasi dan sosialisasi secara masif dan terstruktur," kata Teguh.

Tantangan kedua terkait dengan sumber daya manusia (SDM) yang masih minim, khususnya SDM yang telah memiliki sertifikasi dan spesialis di bidang IoT. Untuk mengatasi masalah tersebut tentu saat ini perlu adanya training, asesmen, dan pembinaan yang menyeluruh. Mulai dari pendidikan dasar hingga vokasi.

"Minimnya SDM menjadi kendala dan jawabannya adalah melakukan training dari pendidikan dasar hingga vokasi. Hal ini dapat dilakukan oleh lembaga formal maupun mandiri dan online. Tujuannya, agar banyak SDM yang mempunyai skill di bidang IoT," sambungnya.

Ketiga adalah keterbatasan kapital, baik dalam bentuk investasi awal dan insentif mengenai IoT. Jawaban dari tantangan ini adalah dengan fleksibilitas pola implementasi mulai dari OPEX, bagi hasil, hibah, dan sponsorship.

Keempat adalah masalah komponen elektronik seperti importasi, dan kelangkaan suplai. Teguh menyarankan agar perlu adanya kemudahan dan pemberian insentif impor komponen. "Hal ini dinilai diperlukan untuk pembuatan industri komponen elektronik seperti cip di Indonesia. Kita berharap bisa mengatasi kelangkaan suplai, dengan menggunakan produk cip lokal yang ada," saran Teguh.

Ia pun menyimpulkan, IoT akan terus bertumbuh dengan pesat. Hal ini sejalan dengan pengembangan otomatisasi di semua sektor kehidupan masyarakat.

Selain itu, pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan pengembang IoT juga dibutuhkan untuk bisa membentuk ekosistem yang saling bersinergi agar dapat bertumbuh dengan cepat. Tentunya, ia melanjutkan, diperlukan upaya bersama untuk mempercepat, mengembangkan ekosistem industri di Tanah Air. Baik itu industri perangkat, cip, komponen, jaringan, platform, sampai dengan aplikasi dan solusi atau integrator di bidang IoT.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA