Tuesday, 23 Syawwal 1443 / 24 May 2022

Yordania Sepakat Pasok Listrik ke Lebanon Melalui Suriah

Kamis 27 Jan 2022 03:30 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Esthi Maharani

Bendera Yordania (ilustrasi)

Bendera Yordania (ilustrasi)

Perjanjian ini akan menyalurkan listrik ke Lebanon sebesar 150 megawat

REPUBLIKA.CO.ID, DAMASKUS --  Lebanon menandatangani kesepakatan dengan Yordania yang akan meringankan kekurangan pasokan listrik dengan menyalurkan listrik melalui Suriah. Perjanjian yang didukung Amerika Serikat (AS) ini disepakati usai Washington menyakinkan Beirut untuk tidak takut sanksi-sanksi yang diterapkan pada Damaskus.

Perjanjian ini bagian dari rencana lebih luas yang bertujuan memompa gas dari Mesir ke pembangkit tenaga listrik di utara Lebanon melalui pipa gas yang ditanam sepanjang Yordania dan Suriah. Tapi rencana itu belum ditandatangani. Perjanjian dengan Yordania ditandatangani dalam sebuah upacara di Beirut yang juga dihadiri menteri listrik Suriah.

Menteri Energi Lebanon Walid Fayad mengatakan kesepakatan itu tidak segera berlaku sebab pemerintah masih bekerja dengan Bank Dunia untuk memfinalisasi kesepakatan pembiayaan. Detailnya harusnya sudah selesai dalam dua bulan.

Perjanjian ini akan menyalurkan listrik ke Lebanon sebesar 150 megawat (MW) dari tengah malam sampai 06.00 pagi waktu setempat. Lalu 250 MW sepanjang hari atau dua jam penuh.

"Ini adalah kesepakatan yang sederhana tetapi sangat penting bagi rakyat Lebanon yang saat ini membutuhkan tambahan listrik setiap jamnya," kata Fayad, Rabu (26/1/2022).

Ia juga memuji pihak berwenang Suriah yang melakukan kerja teknis dalam dua bulan ketika mungkin perlu waktu enam bulan. Ia mengatakan jaringannya sudah terkoneksi.

"Listrik Yordania dan gas Mesir dapat memberikan listrik sekitar enam jam," kata konsultan kebijakan energi Lebanon dan peneliti non-residen Middle East Institut, Jessica Obeid.

"Hal jelas diperlukan terutama krisis sektor listrik berkembang ke krisis kemanusiaan," katanya.

Obeid menyebut perjanjian ini "solusi tambal sulam tidak berkelanjutan." Tapi ia menjuluki rencana ini "perbaikan cepat yang tidak menyelesaikan masalah sektor mana pun yang mengakar pada politik dan pemerintahan."

Pada Selasa (25/1/2022) kemarin Fayad mengatakan Mesir masih menunggu jaminan dari AS mengenai pengecualian sanksi AS pada Damaskus. Perjanjian dengan Mesir harus dapat mengamankan kenaikan pasokan listrik 450 MW dari gas yang dipasok melalui Yordania dan Suriah.

Menteri Perminyakan Mesir Tariq Al Mulla mengatakan para produsen sepakat dapat menyelesaikan perjanjian pada akhir Februari.

"Kami sangat ingin mengirimkan gas ke saudara kami di Lebanon, perusahaan Mesir ada di sana untuk memperbaiki bagian-bagian pipa yang rusak, mereka sudah ada di sana selama satu bulan, satu bulan setengah dan kami akan siap," kata Al Mulla pada CNBC Arabia.

"Sementara itu sisa prosedur dalam perjanjian dengan seluruh akan segera selesai, saya memperkirakan mungkin pada akhir Februari kami sudah siap, insya Allah," tambah Al Mulla.

Pemerintah AS memberlakukan sanksi pada pemerintah Suriah atas perang yang berlangsung selama sepuluh tahun. Al Mulla menambahkan volume dan harganya sudah disepakati tapi detailnya akan segera disampaikan ketika sudah ditandatangani.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA