Friday, 2 Zulhijjah 1443 / 01 July 2022

Kali Pertama Indonesia Lewati Libur Panjang Nataru tanpa Lonjakan Kasus Covid-19

Rabu 26 Jan 2022 11:40 WIB

Rep: Dessy Suciati Saputri/ Red: Nur Aini

Juru Bicara Pemerintah untuk  Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito.

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito.

Foto: ANTARA/Akbar Nugroho Gumay
Kenaikan kasus Covid-19 saat ini dinilai lebih rendah dari prediksi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Juru Bicara Pemerintah Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito menyampaikan, untuk pertama kalinya Indonesia berhasil melewati periode libur panjang Natal dan Tahun Baru 2021 tanpa mengalami lonjakan kasus yang tajam. Meskipun kasus saat ini mengalami peningkatan, tetapi tercatat masih jauh lebih rendah dari prediksi.

“Kita telah berhasil untuk pertama kalinya melewati periode libur panjang Nataru dengan tetap mempertahankan kondisi kasus yang terendah,” kata Wiku saat konferensi pers perkembangan Covid-19 melalui kanal Youtube Sekretariat Presiden, dikutip pada Rabu (26/1/2022).

Baca Juga

Wiku menjelaskan, kondisi aktual kasus Covid-19 saat ini berbeda jauh dari prediksi kenaikan kasus pada periode libur panjang Nataru 2021 kemarin. Berkaca pada pengalaman sebelumnya, periode libur panjang selalu menyebabkan terjadinya kenaikan kasus.

Oleh karena itu, pemerintah melakukan prediksi kenaikan kasus sebagai bentuk kewaspadaan dan kehati-hatian masyarakat untuk mencegah terjadinya lonjakan.

“Kabar baiknya meskipun kasus saat ini sedikit mengalami peningkatan, namun masih jauh lebih rendah bahkan dari estimasi yang diprediksi paling mungkin terjadi,” ucap Wiku.

Hingga 2 Januari 2022, peningkatan kasus mingguan aktual bahkan tercatat sebesar 1.500 kasus per minggu. Sementara 3 prediksi yang dilakukan pada akhir tahun lalu yakni sebesar 400 ribu kasus per minggu jika terjadi peningkatan penularan secara maksimal, atau 250 ribu kasus per minggu jika terjadi peningkatan penularan sebesar 50 persen.

“Atau sebesar 80 ribu kasus per minggu yang dianggap sebagai estimasi yang paling mungkin terjadi,” kata dia.

Wiku juga menyebut, keterisian tempat tidur di ruang isolasi rumah sakit rujukan memang tercatat mengalami kenaikan, tetapi masih di bawah 10 persen. Sedangkan tren kenaikan harian tercatat sedikit mengalami kenaikan, tetapi masih tetap rendah jika dibandingkan dengan tren pada November-Desember 2021.

Ia pun mengapresiasi seluruh pihak baik masyarakat yang disiplin menerapkan protokol kesehatan, maupun pemerintah pusat dan daerah yang terus berkoordinasi menyiapkan fasilitas layanan kesehatan, vaksinasi, dan pengawasan prokes di tempat umum.

“Terlebih pula, kita berhasil mempertahankan kondisi ini di tengah keberadaan varian Omicron yang lebih menular dan berpotensi menyebabkan lonjakan kasus yang signifikan,” kata Wiku.

Baca: Kriteria Sekolah yang Bisa Kembali Gelar PJJ Menurut Satgas

Baca: Thailand Izinkan Warga Menanam Ganja di Rumah

Baca: Akun Instagram Giring Ganesha Sudah Muncul Lagi

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA