Saturday, 5 Rabiul Awwal 1444 / 01 October 2022

Perjalanan Menuju Endemi Covid-19 tidak Sesederhana yang Dipikirkan Banyak Orang

Rabu 26 Jan 2022 06:30 WIB

Rep: Santi Sopia/ Red: Reiny Dwinanda

Ilustrasi penyebaran virus corona tipe baru, SARS-CoV-2. Virus penyebab Covid-19 ini pertama kali ditemukan di China pada akhir 2019 lalu menyebar luas dan cepat menjadi pandemi.

Ilustrasi penyebaran virus corona tipe baru, SARS-CoV-2. Virus penyebab Covid-19 ini pertama kali ditemukan di China pada akhir 2019 lalu menyebar luas dan cepat menjadi pandemi.

Foto: MgIT03
Endemi Covid-19 bukan berarti 'back to normal'.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Setiap orang mengharapkan pandemi Covid-19 berakhir menjadi endemi. Sebagian pihak menganggap pertanda babak akhir dari pandemi sudah di depan mata menyusul kemunculan varian omicron yang disebut-sebut membuat SARS-CoV-2 lebih mudah menular tapi hanya menimbulkan infeksi yang ringan.

Transisi ke endemi adalah pertanda baik, namun masih ada beberapa faktor penting yang perlu diperhatikan. Para ahli memperingatkan bahwa endemi tidak sesederhana seperti yang dipikirkan banyak orang.

Baca Juga

Endemi tak sama dengan "back to normal" alias kembali kehidupan hingga 2019. Jadi apa sebenarnya yang dimaksud dengan 'endemi'?

Seperti yang dijelaskan oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat, endemi mengacu pada keadaan penyakit secara konstan dan/atau prevalensi lazim penyakit atau agen infeksi dalam suatu populasi dalam wilayah geografis.

Level endemi penyakit di suatu daerah pada dasarnya merupakan tingkat dasar dari insiden suatu penyakit di daerah tertentu. Akan tetapi, itu belum tentu merupakan tingkat yang diinginkan. CDC menjelaskan, suatu penyakit dapat dianggap endemi, tetapi masih punya arti cukup luas.

"Penyakit endemik adalah infeksi yang selalu ada pada populasi tertentu," kata Vincent Hsu, direktur eksekutif pengendalian infeksi di AdventHealth, kepada HuffPost, dikutip Selasa (25/1/2022).

Menurut Hsu, penyakit mungkin hanya ditemukan terbatas pada wilayah geografis tertentu, seperti malaria. Akan tetapi, juga bisa menjadi infeksi luas yang memiliki pola musiman, seperti influenza, atau berlanjut sepanjang tahun yang menyebabkan penyakit yang umumnya ringan, seperti common cold alias selesma (pilek).

Sulit untuk mengetahui kapan tepatnya transisi dari pandemi ke endemi akan terjadi. Pejabat kesehatan dan ahli epidemiologi bisa jadi punya ambang batas yang berbeda untuk menentukan kapan Covid-19 bisa disebut sebagai penyakit biasa yang dapat diprediksi dan tidak menciptakan disrupsi saat orang hidup dengannya.

"Secara praktis, agar Covid-19 menjadi endemik, kita perlu berada pada titik di mana Covid-19 cukup umum sehingga tidak menyebabkan penyakit parah yang mengakibatkan rawat inap dan kematian," jelas Jay Lee, seorang dokter keluarga di Costa Mesa, California, Amerika Serikat.

Dengan kata lain, kita membutuhkan kekebalan masyarakat yang cukup tinggi terhadap Covid-19 sehingga tingkat rawat inap dan kematian tidak sampai seperti yang terjadi sekarang. Lee menyebut bahwa lonjakan kasus Covid-19 saat ini ibarat ronde ke-10 dari pertandingan tinju kelas berat.

"Dan kita menghadapi serangkaian pukulan yang belum pernah kita saksikan sebelumnya," kata Lee.

photo
Beda gejala infeksi varian omicron dan delta. - (Republika)

Penyakit endemik belum tentu sama dengan penyakit ringan

Ketika virus terus menginfeksi orang dalam jumlah yang relatif besar, ia memiliki lebih banyak peluang untuk mengubah genomnya. Flu, contohnya.

Kebanyakan orang yang terkena flu akan sembuh dalam beberapa pekan. Akan tetapi, flu juga bisa mematikan bagi sebagian orang. Terkadang, pandemi flu juga terjadi, ketika penyakitnya menyebar dari satu orang ke orang lainnya secara efisien dan berkelanjutan.

"Apa yang kita lihat dengan influenza adalah dekade antara pandemi besar, dan pandemi utama disebabkan oleh berubahnya segmen genom virus flu, yang dikenal sebagai pergeseran genetik," kata pakar penyakit menular Stuart Ray, yang juga wakil ketua kedokteran untuk integritas data Johns Hopkins Medicine.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA