Thursday, 25 Syawwal 1443 / 26 May 2022

Serangan Jantung di Usia Muda, Mungkinkah Terjadi?

Selasa 25 Jan 2022 15:38 WIB

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Nora Azizah

Serangan jantung umumnya identik bagi orang di usia tua.

Serangan jantung umumnya identik bagi orang di usia tua.

Foto: www.freepik.com.
Serangan jantung umumnya identik bagi orang di usia tua.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Serangan jantung identik sebagai masalah kesehatan di usia tua. Namun dalam beberapa kasus, serangan jantung juga bisa terjadi pada kelompok yang lebih muda.

Spesialis penyakit jantung dari Pusat Jantung Nasional Harapan Kita dr Siska Suridanda Danny SpJP(K) mengatakan di Indonesia, serangan jantung rata-rata terjadi pada kelompok usia 55-60 tahun. Rata-rata usia ini lebih muda dibandingkan dengan di Eropa atau Amerika, di mana serangan jantung di kedua wilayah tersebut umumnya mengenai kelompok usia 63-68 tahun.

Baca Juga

Meski lebih banyak mengenai usia tua, serangan jantung juga bisa mengenai kelompok usia muda. Akan tetapi, kejadian ini relatif jarang.

"Kita golongkan serangan jantung usia muda jika terjadi pada usia di bawah 40 tahun," jelas dr Siska kepada republika.co.id, Selasa (25/1/2022).

Umumnya, lanjut dr Siska, serangan jantung pada usia muda dialami oleh orang-orang dengan faktor risiko yang kuat. Sebagian di antaranya adalah diabetes dan hipertensi yang terdeteksi pada usia muda, mengidap penyakit autoimun, atau mengidap penyakit sistem pembekuan darah.

Faktor lain yang dapat meningkatkan risiko serangan jantung pada usia muda adalah perokok berat. Faktor risiko lainnya adalah memiliki gangguan metabolisme kolesterol familial, atau memiliki riwayat serangan jantung usia muda pada keluarga kandung.

"Laki-laki cederung terkena serangan jantung pada usia lebih muda dari perempuan," ungkap dr Siska.

Ada beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk mencegah atau menurunkan risiko serangan jantung pada usia muda. Beberapa di antaranya adalah menerapkan gaya hidup sehat, melakukan olahraga secara rutin, dan menghindari kebiasaan merokok.

Hal lain yang tak kalah penting untuk dilakukan adalah menjaga pola makan. Pola makan yang dianjurkan oleh dr Siska adalah pola makan rendah garam dan rendah lemak.

"Cek kesehatan berkala, terutama jika masuk dalam kelompok risiko tinggi," pungkas dr Siska.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA