Senin 24 Jan 2022 22:58 WIB

SYL Ungkap Penyebab Harga Pupuk Nonsubsidi Naik

Mentan SYL menyebut melonjaknya harga bahan baku picu kenaikan harga pupuk nonsubsidi

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah
Sejumlah pekerja membongkar pupuk nonsubsidi produksi PT Pupuk Kaltim (Pupuk Indonesia Grup). Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo mengungkapkan penyebab kenaikan harga pupuk non subsidi saat ini. Syahrul mengatakan, kenaikan harga tidak lepas dari naiknya harga bahan baku impor.
Foto: Antara/Basri Marzuki
Sejumlah pekerja membongkar pupuk nonsubsidi produksi PT Pupuk Kaltim (Pupuk Indonesia Grup). Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo mengungkapkan penyebab kenaikan harga pupuk non subsidi saat ini. Syahrul mengatakan, kenaikan harga tidak lepas dari naiknya harga bahan baku impor.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo mengungkapkan penyebab kenaikan harga pupuk non subsidi saat ini. Syahrul mengatakan, kenaikan harga tidak lepas dari naiknya harga bahan baku impor.

Syahrul mengatakan, salah satu bahan baku, seperti fosfat mengalami kenaikan harga hingga tiga kali lipat. China yang selama ini menjadi produsen bahkan sedang menyetop ekspornya.

Baca Juga

"(Harga) pupuk di dunia naik, dan sebentar lagi ini akan menjadi persoalan," kata Syahrul dalam Rapat Kerja Komisi IV DPR, Senin (24/1/2022).

Menyikapi masalah harga tersebut, Syahrul mengungkapkan, Presiden Joko Widodo memutuskan agar harga pupuk bersubsidi tidak naik. Namun, sebagai konsekuensi, harga pupuk non subsidi perlu penyesuaian sesuai situasi pasar.

Namun, di satu sisi, Syahrul mengatakan Kementan akan terus mendampingi petani untuk mengurangi penggunaan pupuk kimia dan beralih ke pupuk organik.

"Tahun ini kami akan mengajarkan petani bagaimana pupuk berimbang. Besok (25/1/2022) kami akan gaungkan itu dan mengjarkan satu juta (penyuluh) terkait penggunaan pupuk berimbang," kata Syahrul.

Menjelang masuknya musim puncak panen raya, permintaan pupuk akan kembali meningkat seiring dimulainya kembali musim tanam. Karena itu, Kementan akan mengantisipasi berbagai kemungkinan persoalan yang dapat timbul dari pupuk.

Sementara itu, Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero), Bakir Pasaman, mengatakan, langkah China yang menyetop ekspor fosfat memiliki pengaruh besar terhadap situasi harga bahan baku secara internasional. Selain fosfat, bahan baku lainnya seperti KCL juga naik tinggi sekitar tiga kali lipat.

Di samping itu, juga terdapat kenaikan harga gas di eropa yang menyebabkan harga pupuk secara internasional terganggu. "Memang ada kenaikan harga bahan baku," kata Bakir.

Ia melanjutkan harga pupuk non subsidi yang dijual oleh perseroan di dalam negeri juga jauh lebih murah dari harga internasional. Sebagai gambaran, rata-rata harga pupuk di pasar ekspor kini mencapai Rp 14,5 juta per ton. Namun di Indonesia hanya dijual seharga Rp 9,3 juta per ton.

"Jadi di dalam negeri harga pupuk lebih murah sekitar Rp 5 juta dari luar negeri," kata dia.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement