Thursday, 18 Syawwal 1443 / 19 May 2022

PM Thailand akan Kunjungi Arab Saudi

Ahad 23 Jan 2022 21:45 WIB

Red: Ani Nursalikah

 Perdana Menteri Thailand Prayuth Chan-ocha. PM Thailand akan Kunjungi Arab Saudi

Perdana Menteri Thailand Prayuth Chan-ocha. PM Thailand akan Kunjungi Arab Saudi

Foto: AP/Petros Giannakouris
Thailand mengalami perselisihan diplomatik dengan Arab Saudi tiga dekade lalu.

REPUBLIKA.CO.ID, RIYADH -- Perdana Menteri Thailand Prayuth Chan-ocha akan mengunjungi Arab Saudi pada Selasa (24/1/2022). Kunjungan itu akan menjadi pertemuan tingkat tinggi pertama antara kedua negara sejak perselisihan diplomatik yang dipicu kasus pencurian permata hampir tiga dekade lalu.

Arab Saudi menurunkan status hubungan diplomatik dengan Bangkok menyusul insiden pencurian perhiasan senilai 20 juta dolar (sekitar Rp 286,6 miliar) pada 1989 oleh seorang petugas kebersihan asal Thailand di istana seorang pangeran Saudi. Kasus itu kemudian dikenal sebagai "Skandal Berlian Biru".

Baca Juga

Sejumlah besar perhiasan, termasuk berlian biru yang langka hingga kini belum ditemukan. Kementerian Luar Negeri Arab Saudi dalam pernyataan, Ahad (23/1/2022), mengatakan PM Thailand Prayuth Chan-ocha akan memulai kunjungan dua hari di Arab Saudi atas undangan Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman.

Kunjungan itu dilakukan untuk menciptakan pandangan yang lebih dekat dan kerja sama dalam isu-isu yang menyangkut kepentingan bersama. Kasus pencurian permata itu masih menjadi salah satu misteri terbesar bagi Thailand yang diikuti oleh jejak berdarah.

Setahun setelah pencurian, tiga diplomat Saudi di Thailand tewas dalam tiga pembunuhan yang berbeda dalam semalam. Sebulan kemudian, pengusaha Arab Saudi Mohammad al-Ruwaili yang menyaksikan salah satu penembakan menghilang.

Pada 2014, pengadilan kriminal Thailand membatalkan kasus terhadap lima orang, termasuk seorang perwira tinggi polisi atas dugaan membunuh Ruwaili terkait kasus pencurian batu-batu berharga itu. Thailand sangat ingin menormalkan hubungannya dengan kerajaan kaya minyak tersebut setelah kasus itu merugikan miliaran dolar perdagangan kedua negara, berkurangnya pendapatan pariwisata, dan hilangnya pekerjaan bagi ribuan pekerja migran Thailand.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA