Saturday, 22 Muharram 1444 / 20 August 2022

Tonga Bergelut dengan Abu dan Trauma

Ahad 23 Jan 2022 18:32 WIB

Red: Friska Yolandha

Dalam foto yang dirilis palang merah, relawan mengirimkan bantuan penting bagi masyarakat Tonga, Jumat (21/1/2022).

Dalam foto yang dirilis palang merah, relawan mengirimkan bantuan penting bagi masyarakat Tonga, Jumat (21/1/2022).

Foto: Tonga Red Cross Society via AP
Letusan gunung berapi Tonga memicu gelombang tsunami di Samudra Pasifik.

REPUBLIKA.CO.ID, SYDNEY -- Warga Tonga melarang anak-anak mereka bermain di luar ketika negara itu berjuang mengatasi abu dan trauma yang disebabkan oleh erupsi gunung berapi dan tsunami. Komunikasi dengan dunia luar masih sulit pada Minggu karena layanan internet masih sangat terbatas dan jaringan telepon di pulau-pulau terluar masih terputus.

Palang Merah mengatakan mereka tak hanya menyediakan tenda, makanan, air dan toilet kepada 173 keluarga di pulau utama Tonga, tapi juga kenyamanan. "Setiap orang masih menghadapi kesulitan saat ini," kata Drew Havea, wakil presiden Palang Merah Tonga.

Baca Juga

Karena abu, para kepala keluarga memastikan anak-anak mereka tidak bermain di luar, semua di dalam ruangan. Meskipun beberapa penduduk dari pulau-pulau terluar yang paling terdampak di Ha'apai telah dievakuasi ke pulau utama Tongatapu, penduduk lainnya menolak pergi, kata Havea. 

Dampak psikologis gelombang tsunami yang menghancurkan desa-desa akan mempengaruhi kehidupan mereka selama beberapa waktu, kata dia. "Ada kekhawatiran lain yang muncul di kalangan warga Tonga, dalam pelajaran geografi Anda diajarkan bahwa tempat yang kita tinggali ini adalah Cincin Api. Sekarang saya rasa kita agak khawatir dan mulai berpikir, 'Seberapa aktif tempat-tempat ini?'" kata dia.

Letusan gunung berapi Hunga-Tonga-Hunga-Ha'apai, yang berada di Cincin Api Pasifik yang aktif secara seismik, memicu gelombang tsunami di Samudra Pasifik dan gemuruhnya terdengar hingga sejauh 2.300 km di Selandia Baru. Letusan begitu kuat sehingga satelit-satelit di ruang angkasa tidak hanya menangkap gambar awan abu tapi juga gelombang kejut atmosfer yang memancar dari gunung itu dengan laju yang mendekati kecepatan suara.

"Menggetarkan, Menakutkan. Saya sempat berpikir dunia akan kiamat," kenang John Tukuafu, pemilik resor pantai Vakaloa, yang berjuang menyelamatkan istrinya dari tsunami.

Resornya berada di Kanokupolu, salah satu daerah paling terdampak di Tongatapu. Pohon-pohon yang tercerabut dari akarnya dan puing-puing kini berserakan di tempat resor itu berdiri.

 

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA