Monday, 22 Syawwal 1443 / 23 May 2022

Cococraft Didorong Jadi Produk Unggulan Purbalingga

Ahad 23 Jan 2022 17:15 WIB

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Gita Amanda

Ketiga pengabdi masyarakat dari universitas Fakultas Pertanian dan Perikanan Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), bersama IPB University (Bogor) dan Universitas Jenderal Soedirman terus meningkatkan jalinan kemitraan dengan kalangan perajin cococraft asal Kabupaten Purbalingga.

Ketiga pengabdi masyarakat dari universitas Fakultas Pertanian dan Perikanan Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), bersama IPB University (Bogor) dan Universitas Jenderal Soedirman terus meningkatkan jalinan kemitraan dengan kalangan perajin cococraft asal Kabupaten Purbalingga.

Foto: Dok istimewa
Cococraft merupakan aneka kerajinan berbahan limbah kayu kelapa (glugu) dan tempurung

REPUBLIKA.CO.ID, PURBALINGGA -- Tim pengabdian masyarakat tiga universitas mendorong produksi cococraft bermutu sebagai produk unggulan Kabupaten Purbalingga.

Adapun tiga universitas tersebut yaitu Fakultas Pertanian dan Perikanan Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), bersama IPB University (Bogor) dan Universitas Jenderal Soedirman. Ketiga pengabdi masyarakat dari ketiga universitas tersebut terus meningkatkan jalinan kemitraan dengan kalangan perajin cococraft asal Kabupaten Purbalingga.

Baca Juga

Bentuk dukungan kemitraan berupa kegiatan penelitian dan pengabdian yang menyertakan dosen, peneliti, pengabdi dan mahasiswa sejak Tahun 2011. Hilirisasi hasil riset yang disponsori oleh DRPM Kemenristek DIKTI direalisasikan untuk meningkatkan kualitas mutu dan volume produksi cococraft melalui Program Pengembangan Produk Unggulan Daerah (PPPUD).

Ketua PPPUD untuk Cococraft Bermutu UMP Dr Ir Dumasari Msi mengatakan Kegiatan PPPUD sudah berlangsung dua tahap sejak 2020 dan 2021. Menurutnya, transfer teknologi pada tahap pertama dan kedua mampu meningkatkan kemahiran pengrajin dalam identifikasi karakteristik bahan baku terbaik, teknik potong dan belah bahan baku, memperkaya desain motif sesuai tren pasar, teknik ikat rakit, teknik pemolesan dan pemanfaatan e-commerce untuk perluasan pasar.

“Kegiatan PPPUD sangat membantu pengrajin dalam menggunakan berbagai peralatan teknologi pemotongan dan pembelahan, mesin serut, mesin poles, mesin bor plong, mesin amplas, hand saw,  jigsaw mechine, mesin pahat profil, mesin pengupas permukaan kayu dan lainnya. Berbagai peralatan tersebut memudahkan  pengrajin untuk memproduksi produk cococraft bermutu,” katanya, Ahad (23/1).

Menurutnya, peluang cococraft bermutu sebagai produk unggulan Purbalingga telah didukung dengan kegiatan kemitraan bersama Fakultas Pertanian dan Perikanan, UMP. Dinamika Purbalingga sangat pesat dalam pembangunan daerah yang mendukung pengelolaan ekonomi kreatif untuk pemberdayaan masyarakat lokal.

Produk cococraft bermutu merupakan salah satu hasil produksi usaha berbasis ekonomi kreatif yang dikelola pengrajin di Purbalingga. Cococraft merupakan aneka jenis kerajinan berbahan limbah kayu kelapa (glugu) dan tempurung. Produk ini memiliki beragam desain motif yang semakin artistik dan berdekorasi kontemporer.

Lebih lanjut Dumasari mengatakan, Pemerintah Daerah Kabupaten Purbalingga juga serius dalam memberikan dukungan moril dan material kepada kelompok pengrajin cococraft.  Bantuan gedung sebagai sarana bengkel kerja telah rampung dan dimanfaatkan maksimal oleh pengrajin.

“Lokasi bengkel kerja terpusat untuk sentra produksi cococraft bermutu berada  di Purbalingga Wetan.  Pengembangan usaha mikro ini menyerap tenaga kerja termasuk kaum milenial yang berasal dari lingkungan sekitar dan luar Purbalingga Wetan,” ungkapnya.  

Sementara itu, Ketua Kelompok Pengrajin Manunggal Karya Soetrisno menjelaskan kemanfaatan PPPUD sangat berarti guna menyelesaikan pesanan cococraft dari berbagai segmen pasar dan pelanggan agar tepat waktru. Ia berharap kegiatan PPUD untuk pengrajin lain dapat berlanjut hingga tahap ketiga Tahun 2022.  Apalagi perluasan pemasaran produk unggulan Purabalingga ini termasuk tujuan PPPUD selama tiga tahap.

"Jangkauan pasar telah sampai skala nasional.  Segmen pasar yang menjadi langganan berasal dari beberapa kota di  Kalimantan dan  Sumatera serta Bali,” jelasnya.  

Menurut Soetrisno, usaha mikro cococraft bermutu masih membutuhkan teknik sortir dan grading sebagai bagian dari uji kontrol produk.  Teknik pengawetan produk juga dibutuhkan oleh pengrajin untuk mengurangi risiko kerusakan produk.

Peningkatan seni dekorasi artistik yang kontemporer dinilainya penting untuk menempatkan cococraft bermutu pada kelas suvenir khas yang bernilai seni  sehingga layak menjadi produk koleksi berharga.

"Beberapa transfer teknologi tersebut direncanakan terlaksana pada tahap ketiga dari PPPUD tahun ini," ujarnya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 

BERITA TERKAIT

 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA