Monday, 22 Syawwal 1443 / 23 May 2022

Self Healing dalam Islam, Seperti Apa?

Ahad 23 Jan 2022 17:48 WIB

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Ani Nursalikah

Self Healing dalam Islam, Seperti Apa?

Self Healing dalam Islam, Seperti Apa?

Foto: Dok Istimewa
Salah satu bentuk self healing yang bisa dilakukan adalah beribadah.

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Belakangan self healing (pemulihan diri) jadi istilah sangat populer di kalangan masyarakat. Namun, belum banyak diketahui seperti apa Islam memandang self healing dan bagaimana metode self healing yang bisa sesuai syariat Islam.

Salah satu pendiri layanan kesehatan mental Teman Baik Yogyakarta, Sarita Meisyaranda mengatakan, manusia tidak bisa secara penuh menentukan perasaan suasana hati. Jadi, tidak bisa setiap saat kita selalu riang gembira.

Baca Juga

"Rasa sedih, kesal, senang, takut, rindu, semuanya merupakan sifat manusiawi yang diberikan Allah SWT," dalam Kajian Daring Akbar Muslimah (Kabar) #2 yang digelar Al Ghuroba FMIPA Universitas Islam Indonesia (UII), Sabtu (22/1/2022).

Sosok nabi pernah pula mengalami kesedihan dan ketakutan. Seperti dalam QS 12:84 tentang kisah Nabi Yaqub yang kehilangan anak tercintanya Yusuf. Surat itu menggambarkan suasana hati Yaqub saat itu diliputi kesedihan mendalam.

Kisah Nabi Yaqub memberi hikmah suasana hati yang ada di diri manusia merupakan keadaan emosi yang tidak dapat ditolak kehadirannya. Keimanan dalam diri itu yang nantinya akan menolong manusia mendapatkan jalan ke luar.

"Solusi dari permasalahan emosi yang saat ini kita rasakan, dan dari keimanan itulah yang nantinya dapat menghadirkan ketenangan jiwa," ujar Sarita.

Ia turut menekankan pentingnya mengenali faktor-faktor yang membuat seorang bisa terluka secara psikologis, seperti ekspektasi, perkataan, dan perlakuan dari orang lain. Ada pula kehilangan, kegagalan, perilaku diri sendiri, dan lain-lain.

Dari rasa luka batin dalam diri itu yang memunculkan istilah self healing. Sarita memaparkan, self healing merupakan proses pemulihan melibatkan kekuatan yang tumbuh dari diri sendiri untuk bangkit dari permasalahan psikologisnya.

Ketika sulit konsentrasi, emosi mudah terpantik, lelah tanpa aktivitas berarti, pola makan tidak teratur dan terus-menerus merasa malas untuk berinteraksi dengan orang lain. Maka, dalam kondisi itulah kita perlu melakukan self healing.

Beberapa bentuk self healing yang bisa dilakukan adalah beribadah, relaksasi, positive self talk, dan menulis. Selain itu, perlu diimbangi keyakinan kepada Allah SWT kalau segala yang saat ini kita alami merupakan takdir yang terbaik.

Sarita juga berpesan Muslimah sejati perlu pintar menata hati. Jangan sampai kita terlalu mengikuti mood atau hawa nafsu dalam menjalani kehidupan ini. Contoh yang sering kita temui adalah mudah marah.

"Bila kita ingin menyelesaikan masalah yang kita hadapi dengan mudah marah, maka akibatnya malah memperburuk suasana. Oleh sebab itu, jadilah wanita sejati yang pintar dalam menata hati," kata Sarita.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA