Wednesday, 17 Syawwal 1443 / 18 May 2022

Kekebalan Tubuh Pengaruhi Risiko Kena Pneumonia

Senin 24 Jan 2022 03:01 WIB

Red: Dwi Murdaningsih

Balita terserang pneumonia atau radang paru-paru

Balita terserang pneumonia atau radang paru-paru

Penyebab penyakit pneumonia yaitu patogen seperti bakteri, virus, dan jamur.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tak hanya pada COVID-19, kekebalan tubuh juga menjadi faktor yang sangat berpengaruh pada risiko seseorang terkena penyakit pneumonia. Hal ini diungkap oleh dokter spesialis penyakit dalam Rumah Sakit Universitas Indonesia, Dr. dr. Alvina Widhani, Sp.PD-KAI.

"Faktor kekebalan tubuh sangat berpengaruh terhadap seseorang dapat terjangkit penyakit pneumonia atau tidak," kata dia dalam siaran pers RSUI.

Baca Juga

Alvina menjelaskan, penyebab penyakit pneumonia yaitu patogen seperti bakteri, virus, dan jamur. Menurut penelitian, beberapa jenis kuman seperti Streptococcus pneumonia, Haemophilus influenza, serta virus pernapasan seperti virus penyebab pilek, flu, dan COVID-19 yang banyak ditemukan pada orang dewasa atau lansia berusia 65 tahun ke atas dengan pneumonia.

Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kekebalan tubuh yaitu dengan vaksinasi untuk meningkatkan kekebalan tubuh dengan membentuk antibodi. Dengan begitu, tubuh memiliki kesiapan untuk menangkal bakteri atau virus yang akan masuk ke dalam tubuh.

"Penyakit pneumonia dapat bersifat invasif dan non-invasif, kekebalan tubuh dapat merubah dari non-invasif menjadi invasif, sehingga vaksinasi pneumonia ini menjadi hal yang penting untuk dilakukan kepada lansia, dimana kekebalan tubuh yang mereka miliki akan semakin rendah," ujar Alvina.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) merekomendasikan orang-orang mendapatkan vaksin pneumonia sebagai salah satu langkah pencegahan terkena penyakit pneumonia.Vaksin pneumonia dapat diberikan kepada bayi, anak-anak, orang dewasa, dan lansia. Menurut CDC, pada orang dewasa berusia 65 tahun ke atas, vaksin pneumonia memiliki tingkat efektivitas 50-85 persen dalam hal melindungi individu dari penyakit pneumonia.

Adapun tanda gejala pneumonia yang timbul antara lain sakit kepala, jantung berdebar, mual atau muntah. Selain itu, kulit mengalami perubahan warna menjadi biru dan bahkan bisa menghilangkan nafsu makan serta mempengaruhi suasana hati.

Untuk mendiagnosis pneumonia, dokter bisa melakukan pemeriksaan tanda gejala yang muncul, meminta pasien melakukan pemeriksaan fisis seperti foto toraks, CT-scan, kondisi dahak, pemeriksaan darah, pemeriksaan cairan pleura dan bronkoskopi.

Pengobatan untuk pasien pneumonia dapat dilakukan dilihat dari penyebab dan ada tidaknya komorbid pada pasien tersebut. Setelah diketahui hal itu, maka dapat ditentukan cara pengobatan yang tepat.

 

sumber : antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA