Monday, 15 Syawwal 1443 / 16 May 2022

Penyebab Kasus Stunting di Pekanbaru Dominan Faktor Ekonomi

Ahad 23 Jan 2022 07:40 WIB

Red: Ratna Puspita

Kepala Puskesmas Rejosasi Kecamatan Tenayan Raya, Kota Pekanbaru, Mira Susmita mengatakan, penyebab masih munculnya kasus stunting di Rejosari, dominan faktor ekonomi yang memicu kemiskinan. (ilustrasi Stunting)

Kepala Puskesmas Rejosasi Kecamatan Tenayan Raya, Kota Pekanbaru, Mira Susmita mengatakan, penyebab masih munculnya kasus stunting di Rejosari, dominan faktor ekonomi yang memicu kemiskinan. (ilustrasi Stunting)

Foto: Republika/Mardiah
Faktor ekonomi berdampak pada asupan gizi, dan kesehatan lingkungan.

REPUBLIKA.CO.ID, PEKANBARU -- Kepala Puskesmas Rejosasi Kecamatan Tenayan Raya, Kota Pekanbaru, Mira Susmita mengatakan, penyebab masih munculnya kasus stunting di Rejosari, dominan faktor ekonomi yang memicu kemiskinan. Akibatnya, ibu hamil dan balitanya tidak mendapatkan asupan makanan bergizi. 

"Terhadap faktor ekonomi ini pun menimbulkan dampak lanjutannya yakni rendahnya kesehatan lingkungan, dan bahkan ada beberapa tempat yang tidak mempunyai kamar mandi atau MCK, dan buang air besar juga sembarangan," kata Mira Susmita dalam keterangannya di Pekanbaru, Sabtu.

Baca Juga

Dia mengatakan, penurunan kasus stunting dipicu oleh faktor lingkungan sangat membutuhkan bantuan dari perusahaan melalui program corporate social responsibility (CRS). Sebab, perbaikan lingkungan membutuhkan dana yang besar mendorong percepatan penurunan kasus stunting di kota ini.

Mira menyebutkan, berdasarkan pendataan 2020 pada tujuh kelurahan, ada sebanyak 230 kasus stunting, kemudian turun menjadi 48 kasus pada 2021. "Dengan melibatkan kader dan petugas dari Puskesmas Rejosari, yang terus menerus menggencarkan pendataan maka per 31 Agustus 2021 kasus stunting di Kecamatan Rejosari tinggal menjadi 31 kasus lagi berasal dari enam kelurahan saja," katanya.

Meski sudah turun, katanya, pihaknya tetap gencar melakukan pendataan kembali secara terus menerus dari rumah ke rumah, menimbang berat badan anak di Puskesmas dan memberikan makanan pendamping ASI. Kasus stengkes di daerah ini, ia mengatakan, diyakini bisa turun lagi, karena semua kader sudah turun dari rumah ke rumah warga apalagi Kota Pekanbaru sudah membentuk Satgas Stunting, dengan melibatkan semua Organisasi Perangkat Daerah (OPD).

"Dengan demikian anak dalam kondisi kurang gizi dan berat badan rendah akan bisa dipantau secara berkala dan berikutnya diberikan tambahan makanan bergizi disamping ASI. Bahkan melalui pemakaian kontrasepsi yang aman untuk ibu menyusui yakni Pil KB progestin pun diyakini kasus stunting bisa diturunkan lagi," katanya.

Pil KB yang mengandung hormon progestin bisa menjadi salah satu pilihan kontrasepsi bagi ibu yang masih memberikan ASI eksklusif, disamping itu jarak kelahiran anak bisa diatur dan anak bisa tumbuh dengan sehat.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA