Saturday, 20 Syawwal 1443 / 21 May 2022

Pakar Terangkan Fenomena Hybrid Immunity Saat Hadapi Covid-19

Sabtu 22 Jan 2022 20:19 WIB

Red: Indira Rezkisari

Hybrid immunity tetap memiliki risiko tertular Covid-19 karena faktor adanya mutasi. Protokol kesehatan menjadi garda terdepan untuk mencegah diri terpapar Covid-19.

Hybrid immunity tetap memiliki risiko tertular Covid-19 karena faktor adanya mutasi. Protokol kesehatan menjadi garda terdepan untuk mencegah diri terpapar Covid-19.

Foto: Republika/Putra M. Akbar
Hybrid immunity diperoleh dari kombinasi infeksi alami dan vaksinasi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Spesialis paru dan akademisi di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) RSUD Dr Soetomo, dr Helmia Hasan, menjelaskan bahwa meski terdapat hybrid immunity atau imunitas hibrida terhadap Covid-19 tapi protokol kesehatan tetap perlu dilakukan untuk menghindari infeksi ulang. Dalam diskusi virtual yang diadakan PDPI tentang super immunity terhadap Covid-19, dia menjelaskan bahwa istilah super immunity sebenarnya hampir tidak pernah terlihat di dalam studi medis.

Istilah itu lebih sesuai jika disebut hybrid immunity atau kekebalan individu yang diperoleh dari kombinasi imunitas yang didapat dari infeksi alami dan vaksinasi. "Memang kombinasi antara seseorang yang sudah pernah sakit dan kemudian mendapatkan vaksinasi memang respons antibodinya lebih tinggi," kata Helmia dalam diskusi yang diikuti secara virtual dari Jakarta, Sabtu (22/1/2022).

Baca Juga

Secara teori, jelasnya, individu yang telah divaksinasi dan yang pernah terinfeksi memiliki risiko rendah untuk terinfeksi kembali. Infeksi natural dan vaksinasi menghasilkan neutralizing antibodies yang mempunyai peran proteksi yang utama terhadap Covid-19.

Dia menjelaskan bahwa jumlah sel B memori, yang bertugas menyimpan atau mengingat gen dari zat asing untuk menghasilkan antibodi, meningkat 5-10 kali lipat pada hybrid immunity dibandingkan setelah infeksi natural atau vaksinasi saja. Neutralizing antibodi juga 100 kali lebih tinggi jika memiliki hybrid immunity dibandingkan imuniti hasil dari infeksi atau vaksinasi saja.

"Seseorang dengan hybrid immunity itu jarang sekali mengalami sakit yang parah dan bahwa kejadian adanya infeksi setelah hybrid immunity juga jarang, dibandingkan yang bukan hybrid immunity," jelasnya.

Namun demikian, dia menegaskan bahwa meski terdapat hybrid immunity tetapi memiliki risiko tertular karena karakter mutasi virus yang sulit diketahui. Untuk itu, protokol kesehatan tetapi menjadi hal utama dalam pencegahan Covid-19.

"Tetap protokol kesehatan karena kita tidak tahu sebetulnya kondisi antibodi kita di dalam tubuh, kondisi sel-sel kita di dalam tubuh. Jadi tetap melakukan protokol kesehatan supaya tidak tertular kembali," ujarnya.

sumber : Antara
Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA