Tuesday, 23 Syawwal 1443 / 24 May 2022

Penjara Yaman Diserang Arab Saudi Cs, 70 Orang Dilaporkan Tewas

Sabtu 22 Jan 2022 12:51 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Teguh Firmansyah

Orang-orang memeriksa puing bangunan yang rusak akibat serangan udara di Sanaa, Yaman, Selasa (18/1/2022).

Orang-orang memeriksa puing bangunan yang rusak akibat serangan udara di Sanaa, Yaman, Selasa (18/1/2022).

Foto: AP Photo/Hani Mohammed
Arab Saudi membantah sengaja mengincar penjara di Provinsi Saada, Yaman.

REPUBLIKA.CO.ID, KAIRO -- Koalisi Arab Saudi yang berperang melawan kelompok Houthi di Yaman membantah sengaja mengincar penjara di Provinsi Saada, Yaman. Kantor berita Arab Saudi SPA melaporkan koalisi mengatakan fasilitas itu tidak masuk dalam daftar lokasi yang tidak boleh diserang.

Pada Sabtu (22/1/2022) seorang saksi mata mengatakan beberapa orang termasuk imigran-imigran Afrika meninggal dunia dalam serangan tersebut. Setidaknya 70 orang dilaporkan tewas dalam peristiwa ini.

Baca Juga

"Koalisi akan memberikan informasi pada Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) di Yaman dan Komite Internasional Palang Merah (ICRC) mengenai fakta dan detailnya," kata juru bicara koalisi seperti dikuitip SPA.

Juru bicara itu mengatakan Saada tidak masuk dalam daftar lokasi yang tidak boleh diserang berdasarkan kesepakatan dengan OCHA. Selain itu, penjara itu tidak dilaporkan oleh ICRC dan tak memenuhi standar yang ditetapkan Konvensi Jenewa Ketiga untuk Tawanan Perang.

Sebelumnya dilaporkan koalisi Arab Saudi menyerang penjara yang dikelola Houthi. Serangan tersebut bagian dari serangan udara untuk menggempur negara termiskin di dunia.

Serangan besar-besaran terjadi setelah Houthi yang didukung Iran mengklaim bertanggung jawab atas serangan drone dan rudal di Uni Emirat Arab pada awal pekan ini. Serangan Houthi itu meningkatkan ketegangan di negara yang hancur karena perang.

Menteri Kesehatan Houthi Taha al-Motawakel mengatakan sekitar 70 tahanan meninggal dunia. Ia memperkirakan jumlah akan terus bertambah karena banyak yang terluka parah. "Dunia tidak bisa diam saja ketika menghadapi kejahatan-kejahatan seperti ini," kata al-Motawakel.

Ia menambahkan telah meminta organisasi internasional untuk mengirimkan staf medis dan bantuan. Al-Motawakel mengatakan petugas medis di Yaman kelelahan dengan gelombang pasien luka dari serangan ini setelah beroperasi dengan sumber daya terbatas selama pandemi.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA